RADARBANYUWANGI.ID – Di balik ratusan serangan mematikan Liverpool selama era keemasan Jurgen Klopp, ada hubungan yang tak dibangun lewat banyak kata. Tidak ada isyarat rumit, tak selalu butuh instruksi, bahkan terkadang nyaris tanpa komunikasi. Namun bola selalu tiba di tempat yang tepat, pada waktu yang tepat. Itulah ikatan spesial yang diakui Trent Alexander-Arnold dengan Mohamed Salah.
Bek kanan yang kini memperkuat Real Madrid itu akhirnya membuka cerita soal kedekatannya dengan Salah, sosok yang selama hampir delapan tahun menjadi rekan seperjuangan sekaligus partner paling mematikan di Liverpool.
Bagi Trent, kenangan terbaik bersama Salah bukan sekadar trofi atau malam-malam besar di Liga Champions.
Justru hubungan di atas lapangan menjadi hal yang paling membekas.
“Kenangan favorit saya dengan Mo mungkin adalah hubungan yang kami miliki di lapangan,” ungkap Trent.
Ia menggambarkan chemistry mereka berkembang hingga pada titik yang sulit dijelaskan secara logika.
Menurutnya, hubungan tersebut terbentuk begitu alami.
“Sebagian besar waktu kami bahkan tidak perlu berbicara; itu terasa alami. Hampir seperti telepati kadang-kadang. Dia tahu ketika saya mendapat bola ke mana bola itu akan pergi dan saya tahu lari-lari yang akan dia lakukan. Itu adalah pemahaman yang istimewa,” katanya.
Pernyataan itu seolah menjelaskan mengapa kombinasi Trent dan Salah selama bertahun-tahun menjadi salah satu senjata paling mematikan Liverpool.
Formula Liverpool yang Sulit Dihentikan
Selama era Jurgen Klopp, pola serangan Liverpool hampir menjadi rumus yang dikenali banyak lawan, tetapi tetap sulit dihentikan.
Trent dari sisi kanan mengirim umpan silang, cut-back, atau bola diagonal ke ruang kosong.
Di saat bersamaan, Salah melakukan pergerakan memotong ke dalam menuju kotak penalti.
Skema itu terus berulang dan menghasilkan banyak gol.
Banyak pengamat sepak bola menyebut kombinasi Trent-Salah sebagai salah satu duet paling produktif dalam sejarah modern Premier League.
Hubungan mereka terbentuk sejak Salah bergabung dari AS Roma pada 2017.
Saat itu Trent masih pemain muda lulusan akademi Liverpool yang baru menembus tim utama.
Siapa sangka, keduanya kemudian tumbuh menjadi tulang punggung era emas Liverpool.
Selama kurang lebih delapan musim bermain bersama, mereka membantu Liverpool meraih berbagai gelar bergengsi:
-
Liga Champions
-
Premier League
-
Piala FA
-
Piala Liga Inggris
-
Piala Dunia Antarklub
-
Piala Super Eropa
Di balik prestasi tersebut, Trent menyebut Salah memiliki sesuatu yang mungkin tidak banyak diketahui publik.
Bukan Hanya Mesin Gol
Banyak orang mengenal Salah lewat gol, rekor, atau trofi yang ia raih.
Namun menurut Trent, sisi terbaik Salah justru tidak terlihat di layar televisi.
“Ada begitu banyak hal yang membuat Mo istimewa,” ujar Trent.
“Jelas, semua orang melihat gol-gol, rekor-rekor, trofi-trofi, tapi bagi saya, etos kerjanya adalah yang terbaik yang pernah saya lihat. Standar yang dia tetapkan untuk dirinya sendiri luar biasa.”
Pujian itu bukan sekadar basa-basi.
Sebab menurut Trent, standar latihan dan disiplin Salah berada pada level berbeda.
Hal itu pula yang membuat penyerang asal Mesir itu mampu menjaga performa di level tertinggi selama bertahun-tahun.
Sosok Superstar yang Sangat Membumi
Yang paling membuat Trent terkesan ternyata bukan soal sepak bola.
Ia justru menilai Salah sebagai sosok yang sangat sederhana meski berstatus superstar dunia.
“Yang mungkin tidak terlihat banyak oleh orang-orang adalah pribadi dia di luar sepak bola. Bagi seseorang yang merupakan superstar global, dia sangat rendah hati, membumi, dan peduli,” ujarnya.
“Jujur saja, salah satu orang paling rendah hati yang pernah saya temui. Dia benar-benar tertarik pada orang lain dan kehidupan mereka. Dia peduli pada Anda sebagai pribadi terlebih dahulu.”
Hubungan mereka pun berkembang melampaui sekadar rekan setim.
Trent bahkan mengaku memandang Salah sebagai keluarga.
“Di lapangan, dia seperti monster dan pemenang sejati. Tapi di luar itu, dia adalah seseorang yang menjadi teladan dalam cara dia memperlakukan orang dan membawa diri setiap hari,” katanya.
“Saya menganggapnya sebagai teman dekat yang sebenarnya. Dia seperti keluarga bagi saya.”
Tetap Dekat Meski Jalan Berbeda
Kini jalan karier keduanya mulai berbeda.
Trent telah meninggalkan Liverpool dan memulai petualangan baru bersama Real Madrid.
Sementara Salah tetap menjadi salah satu ikon terbesar di Anfield.
Musim 2025/2026, Trent mencatat 27 pertandingan bersama Real Madrid dengan tiga assist dan 1.625 menit bermain.
Namun satu hal tampaknya tidak berubah.
Hubungan yang dulu dibangun lewat umpan silang, lari tanpa kata, dan pemahaman tanpa instruksi, rupanya tetap bertahan.
Karena bagi Trent, hubungan dengan Mohamed Salah tak sekadar soal sepak bola.
Lebih dari itu, hubungan tersebut telah berubah menjadi persahabatan yang terasa seperti keluarga. (*)
Editor : Ali Sodiqin