RadarBanyuwangi.id – Raut wajah Suko terlihat sedih kemarin (17/5). Pria berusia 51 tahun yang tinggal di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah tak bisa menyembunyikan kesedihanya setelah ritual tari Seblang Olehsari tahun ini tak jadi digelar.
Suko hanya bisa meratap sembari menahan tangis di atas pentas yang biasa digunakan untuk Seblang Olehsari. Padahal pentas sudah siap sedemikian rupa. Janur dan ubo rampe yang menjadi hiasan seperti buah-buahan juga sudah terpasang di atas pentas. Payung putih lebar yang biasanya kuncup, sudah dibuka lebar-lebar tanda menyiapkan penari seblang di bawahnya.
Atas beberapa pertimbangan, akhirnya semua pihak yang terlibat dalam ritual Seblang Olehsari sepakat tidak menggelar ritual tahunan tersebut.
Ritual tahunan ini urung digelar setelah tokoh-tokoh adat di Desa Olehsari menyatakan tak ingin mengambil risiko menggelar seblang hanya dalam waktu sehari.
Izin dari Intelkam Polresta Banyuwangi hanya membatasi pergelaran Seblang Olehsari satu hari saja dengan durasi antara 3–4 jam. Padahal sebelumnya Satgas Covid-19 Banyuwangi sudah mengizinkan pelaksanaan kegiatan tersebut asalkan digelar sesuai dengan protokol kesehatan. Apalagi, Seblang Olehsari adalah salah satu ritual yang masuk dalam agenda Banyuwangi Festival (B-Fest). Perizinannya secara otomatis menjadi satu kesatuan dengan event B-Fest lainnya.
”Kami mohon maaf ritual tari Seblang Olehsari tidak bisa digelar. Tapi untuk inti ritualnya sudah kita laksanakan semalam sebelumnya. Ini semata-mata sebagai upaya untuk memutus mata rantai penularan Covid-19,” ujar Kades Olehsari Joko Mukhlis saat ditemui di kantornya kemarin.
Mulanya Seblang Olehsari diagendakan digelar selama sepekan. Mulai tanggal 17–23 Mei 2021. Jadwal tersebut sudah disepakati oleh tokoh adat yang selama ini menjalankan pelaksanaan ritual tari seblang. Hingga kemudian muncul surat dari kepolisian terkait izin keramaian ritual tari Seblang Olehsari.
Kepolisian hanya memberikan waktu satu hari kepada panitia penyelenggara. Dengan pertimbangan kondisi penularan Covid-19 yang hingga kini masih belum melandai. Joko kemudian berembuk dengan para tokoh adat termasuk pawang Seblang Olehsari. Rupanya, aturan yang mengizinkan penari hanya boleh tampil dalam sehari tidak bisa diterima oleh para tokoh adat. Mereka beralasan tak ingin mengambil risiko dengan menggelar seblang hanya dalam waktu sehari.
Hal itu berbenturan dengan kesepakatan leluhur terkait pelaksanaan waktu menari Seblang Olehsari. Karena jelas-jelas dalam pertemuan sebelumnya sudah disepakati tarian seblang bisa digelar selama seminggu dimulai dari Senin kemarin. ”Kita sudah sampaikan kepada masyarakat dan tokoh adat. Intinya tidak ada yang mau mengambil risiko ketika tari seblang hanya digelar sehari. Masyarakat khawatir akan ada dampak kepada desa, ketua adat, maupun penari itu sendiri,” jelas Joko.
Pembina Panitia Seblang Olehsari Eko Sukartono menambahkan, semua wewenang dari pelaksanaan ritual tari Seblang Olehsari bermuara kepada para tokoh adat. Mereka (para tokoh adat) jauh hari sudah menetapkan tarian seblang akan digelar selama tujuh hari. Hal itu juga sudah disampaikan kepada Satgas Covid-19 Kabupaten. Ditambah lagi, Seblang Olehsari adalah salah satu ritual yang masuk dalam agenda B-Fest. Namun kemudian, mendadak keluar surat dari kepolisian yang mengizinkan pelaksanaan ritual tari seblang hanya sehari.
Eko menyayangkan tidak sinkronnya koordinasi antarpimpinan di Banyuwangi. Sehingga tari seblang yang awalnya diperbolehkan oleh Satgas Covid-19 mendadak harus digelar selama sehari. ”Padahal tahun lalu kita menggelar dengan isolasi kawasan yang ketat. Masih ada videonya kalau ingin melihat. Gang-gang kami tutup. Tidak sembarang orang bisa masuk,” kata Eko.
Plt Kabid Ekraf Disbudpar Banyuwangi Alimi mengatakan, sebenarnya pihaknya sudah menyiapkan solusi dengan menyediakan layanan live streaming supaya penonton tak perlu datang ke lokasi seblang. Disbudpar juga sudah mengajukan permohonan rekomendasi kepada Satgas Covid-19 Kabupaten. ”Karena pertimbangan berbagai pihak dan semua kita serahkan kepada panitia adat. Ternyata memang tidak bisa digelar dalam sehari. Kita hanya menyediakan fasilitas live streaming agar masyarakat bisa menyaksikan tanpa harus ke sini,” tandas mantan Sekretaris Kelurahan Gombengsari itu. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin