RADARBANYUWANGI.ID - Banyuwangi memiliki keanekaragaman tumbuhan langka. Salah satunya bunga Rafflesia zollingeriana yang tumbuh di hutan Papring, Kalipuro, Banyuwangi.
Munculnya bunga rafflesia menjadi penanda betapa pentingnya kelestarian hutan tropis yang sekaligus bisa dijadikan peluang besar untuk pariwisata berbasis konservasi.
Di jantung hutan Papring, mekar bunga langka jenis Rafflesia zollingeriana. Bunga raksasa tanpa akar, batang, dan daun ini hanya tumbuh di pelukan tanaman rambat tetrastigma.
Butuh waktu bertahun-tahun hanya untuk mekar sekejap dalam hitungan hari.
Keberadaan bunga rafflesia menjadi penanda bahwa alam masih bernapas di tengah banyaknya degradasi hutan.
Lebih dari sekadar keajaiban biologis, rafflesia menyimpan potensi besar bagi Banyuwangi untuk mengembangkan ekowisata yang tak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga menanamkan kesadaran tentang pentingnya konservasi.
Di balik aromanya yang busuk, tersembunyi pesan keharmonisan yang kuat antara manusia dan alam.
Selasa (23/4) lalu Jawa Pos Radar Banyuwangi bersama tim gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banyuwangi, Perhutani, dan Badan Riset Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan ekspedisi konservasi di hutan Papring.
Tim yang beranggotan 20 orang tersebut meneliti bunga rafflesia. Bunga rafflesia tersebut tumbuh di hutan Papring yang jaraknya sekitar 5 kilometer ke arah barat laut dari pusat kota Kalipuro.
Kawasan hutan Papring menyimpan keajaiban alam yang begitu langka. Hutan Papring diketahui sebagai salah satu habitat alami bunga terbesar dan paling langka di dunia, yaitu rafflesia.
Keheningan dan kesejukan hutan ini menjadi tempat ideal bagi tumbuhnya bunga yang hanya muncul sesekali dalam beberapa tahun dan membutuhkan kondisi lingkungan yang sangat spesifik.
Jenis bunga rafflesia yang ditemukan di hutan Papring adalah Rafflesia zollingeriana sp, salah satu spesies endemik yang dapat dijumpai di kawasan hutan Jawa Timur saja.
Kemunculan bunga ini menjadi indikator penting akan kelestarian hutan dan juga potensi besar Banyuwangi sebagai wilayah konservasi flora langka.
Febrina Siahaan dari Pusat Risat Botani Terapan BRIN menjelaskan, bunga rafflesia atau yang biasa dikenal sebagai bunga bangkai merupakan bunga unik yang berwujud bunga tunggal. Ukurannya bervariasi dari diameter 10 cm hingga 1,5 meter.
”Walaupun mampu mencapai ukuran lebih dari satu meter, rafflesia tergolong bunga bersifat parasit dan hanya menginangi tanaman Tetrastigma sp, yang merupakan tanaman rambat di hutan tropis,” kata Febrina.
Lebih jauh Febrina menjelaskan, keberadaan tetrastigma sangatlah penting bagi rafflesia dan harus dijaga populasinya.
Mekipun sudah ada tanaman tetrastigma, belum tentu dia akan diinangi oleh rafflesia. Lalu, jika tetrastigma sudah diinangi belum tentu juga rafflesia akan tumbuh di situ.
”Ukuran diameter dari bunga ini berkisar 30 hingga 40 cm. Bunga Rafflesia zolingeriana menyebarkan aroma busuk yang khas dan tentunya menarik keberadaan lalat di sekitarnya,” ujar peneliti bunga rafflesia asal Sumatra tersebut.
Dewi Lestari, salah seorang ahli ekologi dan etnobiologi menjelaskan, bunga ini memiliki siklus hidup yang lama dan fase mekarnya sangat singkat.
Bunga jenis Rafflesia zolingeriana butuh waktu sekitar 2 tahun dari bunga hingga menjadi bunga lagi. Fase mekar hanya sekitar 5 sampai 7 hari saja.
Meski sudah keluar kuncup, bunga ini belum tentu mekar karena ada perubahan kondisi lingkungan. ”Bunga raksasa ini sejatinya adalah bunga yang super sensitif,” kata Dewi.
Diungkapkan Dewi, ada lebih dari 10 titik lokasi pertumbuhan bunga Rafflesia zolingeriana di hutan Papring. Kebanyakan lokasinya saling berjauhan. Perjalanan menuju titik tersebut ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 1 jam dari kawasan hutan petak 10 Perhutani.
Dari sisi ekologi, munculnya bunga Rafflesia zolingeriana menandakan bahwa ekosistem hutan di Banyuwangi masih cukup sehat untuk mendukung kehidupan flora endemik.
Sebab, daur hidupnya yang unik dan sensitif, sedikit perubahan pada lingkungan dapat berdampak besar terhadap kelangsungan hidupnya. ”Hutan di Indonesia saat ini sudah banyak yang mulai terdegradasi akibat ulah manusia,” ujarnya.
Di sisi lain, kemunculan bunga ini membuka peluang besar bagi pengembangan ekowisata berbasis konservasi. Potensi ini sebagai alternatif pariwisata alam yang tidak hanya menawarkan keindahan, tetapi juga nilai edukatif dan pelestarian lingkungan.
Dengan pengelolaan yang bijak, kehadiran Rafflesia zollingeriana di hutan Papring dapat menjadi daya tarik wisata baru Banyuwangi.
”Selain itu, bisa menjadi contoh nyata bagaimana pariwisata dan konservasi bisa berjalan berdampingan untuk keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sekitar,” imbuh Dewi. (cw5-Dalila Adinda/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin