Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Harga Kelapa Tembus Rp 17 Ribu Per Butir, Seukuran Kepala Bayi Dibanderol Rp 10 Ribu di Sempu Banyuwangi

Agung Sedana • Jumat, 2 Mei 2025 | 15:41 WIB
TERSENYUM: Ponirin, petani kelapa asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Glenmore, menyetorkan hasil panen ke gudang pengepul di Kecamatan Sempu beberapa hari lalu (23/4).
TERSENYUM: Ponirin, petani kelapa asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Glenmore, menyetorkan hasil panen ke gudang pengepul di Kecamatan Sempu beberapa hari lalu (23/4).

RADARBANYUWANGI.ID – Para petani kelapa di Banyuwangi tengah semringah. Sejak berbulan-bulan terakhir harga buah kelapa di pasaran relatif mahal, mulai Rp 15 ribu sampai Rp 17 ribu per butir.

Di Pasar Sempu, misalnya, harga kelapa tua dengan kategori A yang biasanya dijual Rp 6 ribu per butir, kini melonjak menjadi Rp 15 ribu.

Sedangkan untuk kelapa kategori C (seukuran kepala bayi) dibanderol Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per butir. Sementara untuk kelapa parut dibanderol lebih tinggi lagi, yakni di kisaran Rp 18 ribu per butir.

Namun saat para petani semringah, kalangan pedagang justru ”tepuk jidat”. Sebab, penjualan mereka turun drastis.

”Tidak mesti laku. Dalam sehari belum tentu ada yang beli. Karena mahal, jadi agak susah penjualannya,” kata Wagiyem, penjual kelapa di Pasar Sempu.

Sementara itu, sejumlah petani kelapa mengaku bahwa mahalnya harga kelapa disebabkan banyaknya permintaan kelapa muda. Terutama pada Ramadan lalu. Kala itu kelapa muda banyak diincar pedagang takjil.

Dari petani, kelapa tua saat ini dijual dengan harga Rp 7 ribu, sedangkan kelapa muda seharga Rp 3 ribu per butir.

”Karena pohon kelapa tidak banyak buahnya. Biasanya 8 butir per pohon, sekarang kebanyakan hanya 5 butir per pohon. Sebagian buah kelapa sudah diambil karena ramai permintaan kelapa muda saat Ramadan lalu,” kata Ponirin, 57, petani kelapa asal Dusun Sugihwaras, Desa Bumiharjo, Kecamatan Glenmore.

Pemilik gudang atau supplier, memiliki pandangan lain berkaitan tingginya harga buah kelapa saat ini.

Mereka menilai kenaikan harga buah kelapa dipengaruhi tren ekspor. 

Badan Pusat Statistik mencatat, ekspor kelapa tua tahun ini mencapai 70.077 ton sepanjang Januari–Februari 2025. Mayoritas kelapa tersebut diekspor ke Vietnam, Tiongkok, Malaysia, dan Thailand.

Baca Juga: Disembunyikan di Bawah Kelapa dan Pisang, Setengah Juta Rokok Ilegal Diamankan Bea Cukai Banyuwangi

”Stok kelapa susah. Saya bahkan harus mencari stok sampai ke Kecamatan Wongsorejo. Karena banyak gudang kelapa yang ikut tren ekspor. Jadi, stok di pasar lokal jauh berkurang,” ungkap Zulfa Ida Fitriana, 28, supplier kelapa asal Kecamatan Sempu.

Terkait mahalnya harga kelapa eceran, Zulfa menilai ada perbedaan di setiap pasar.

Padahal dari gudang, kelapa tua kategori A di banderol dengan harga Rp 8 ribu per butir, sedangkan buah kelapa ukuran kecil dihargai jauh lebih murah. 

Selain memenuhi kebutuhan pasar lokal, Zulfa juga mengirimkan stok kelapa ke pasar luar daerah.

Dalam satu pekan, Zulfa mengaku bisa mendapatkan permintaan hingga 1.500 butir kelapa tua kategori A.

”Untuk permintaan pasar lokal dan luar kota, biasanya Pasuruan. Saya pernah ditawari untuk pasar ekspor, tapi saya menolak. Risikonya tinggi,” pungkasnya. (cw4/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#petani kelapa #harga kelapa #banyuwangi #harga naik #kepala bayi