Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Masuki Fase Pancaroba dari Hujan ke Kemarau, BMKG Ingatkan Potensi Terjadinya Cuaca Ektrem

Niklaas Andries • Kamis, 17 April 2025 | 15:09 WIB
BMKG memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026.
BMKG memprediksi puncak musim hujan akan terjadi pada November 2025 hingga Februari 2026.

Radarbanyuwangi.id – Potensi terpaan cuaca ekstrem berpeluang terjadi selama bulan April ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan saat ini sebagian besar wilayah di nusantara memasuki fase musim pancaroba.

Transisi dari musim penghujan ke musim kemarai ini berpotensi memunculkan cuaca ekstrem yang berpotensi bisa mengganggu aktivitas masyarakat.

Fase ini diperkirakan berlangsung hingga Juni 2025. Kondisi cuaca yang tidak menentu dengan suhu panas di pagi hingga siang hari diikuti hujan lebat, petir, dan angin kencang pada sore hingga malam.

BMKG menjelaskan bahwa pemanasan permukaan yang intens memicu pembentukan awan konvektif, yang dapat menyebabkan fenomena ekstrem seperti hujan es atau angin puting beliung.

Data yang dimiliki BMKG menunjukkan bahwa sekitar 60 persen wilayah Indonesia, mencakup 420 Zona Musim (ZOM), telah memasuki pancaroba.

Wilayah seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, dan sebagian Papua termasuk yang terdampak sekaligus perlu mendapatkan perhatian khusus.

Hujan selama pancaroba cenderung singkat namun deras. Fenomena ini berpeluang terjadi di sejumlah daerah seperti Sumatra Barat, Riau, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, dan Papua Selatan.

Fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan Gelombang Kelvin turut memperbesar potensi cuaca ekstrem selama periode ini.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, atau puting beliung.

 “Cuaca pancaroba sangat dinamis. Pastikan untuk tidak berteduh di bawah pohon atau baliho yang rapuh saat hujan deras, dan amankan benda-benda yang mudah tertiup angin,” ujarnya.

Perubahan cuaca yang cepat juga berisiko memengaruhi kesehatan, sehingga warga dianjurkan menjaga stamina dan hidrasi.

BMKG memperkirakan musim kemarau akan mulai dominan pada Mei 2025 di beberapa wilayah, dengan puncaknya pada Juli hingga Agustus 2025.

Namun, hujan sporadis masih mungkin terjadi karena pengaruh iklim lokal dan regional. 

Untuk itu, BMKG menyarankan sektor pertanian memanfaatkan sisa hujan pancaroba untuk mengisi cadangan air, sementara pemerintah daerah diminta memperkuat langkah mitigasi bencana, seperti pembersihan saluran air dan penguatan tanggul. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#cuaca ektrem #kalimantan #jawa #papua #sulawesi #kemarau #sumatera #bali #cuaca #Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika #bmkg #Pancaroba #hujan