Jalan ini berada di pusat bisnis dan perbelanjaan serta menjadi denyut nadi ekonomi di Jakarta. Jalan ini membentang sepanjang 2,25 km dari Karet Sudirman Tanah Abang Jakarta Pusat hingga Terowongan Casablanca, Kuningan, Jakarta Selatan.
Jalan Satrio dilewati oleh Jalan Layang Non-tol Tanah Abang–Kampung Melayu yang dibangun di atas jalan ini.
Jalan Layang Non Tol ini membentang dari Jalan Casablanca hingga Jalan Kyai Haji Mas Mansyur dengan panjang 3.4 km. Jalan Layang Non Tol ini dibuat untuk mengurangi kemacetan di Jalan Satrio.[
Kawasan ini sering disebut sebagai segitiga emasnya Jakarta. Jalan ini melintasi 4 kelurahan diantaranya Karet Setiabudi, Semanggi Setiabudi, Karet Kuningan Setiabudi,dan Kuningan Timur Setiabudi.
Jalan Satrio merupakan jalur akses menuju Mega Kuningan. Di jalan ini terdapat Gerbang Mega Kuningan, Tokopedia Tower, ITC Kuningan, Lotte Shopping Avenue, Mall Ambasador, dan Kuningan City.
Nama jalan tersebut diambil dari sosok Menteri Kesehatan RI ke-10 yakni Mayjen TNI (Purn.) Prof. Dr. Satrio.
Sosoknya merupakan seorang dokter militer. Dia menjabat sebagai Menteri Kesehatan pasa masa demokrasi terpimpin tahun 1959-1966.
Satrio juga pernah memimpin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto (RSPAD).
Usai pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda. Satrio yang kala itu berpangkat Letkol didaulat untuk mengambilalih rumah sakit militer di Kwini dari Kolonel Dokter van Bommel.
Serah terima dilakukan pada 26 Juli 1950. Saat itu rumah sakit memiliki 60 dokter dimana 10 di antaranya adalah dokter spesialis. Nyaris semua berstatus militer.
Hanya satu dokter saja yang berstatus sipil, yakni Borgers, dokter ahli bedah.
Ada sekitar 300 perawat yang semuanya perempuan Belanda. Kemudian instalasi kesehatan militer warisan Belanda ini dikenal sebagai Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto.
Dan, siapa sangka bila sosok Dr Satrio yang pernah menjabat sebagai Menteri Kesehatan ini merupakan kelahiran Banyuwangi alias Lare Osing.
Dr Satrio lahir di Banyuwangi pada 28 Mei 1916. Dalam pendidikannya, Satrio menempuh pendidikan kedokterannya di Jakarta pada tahun 1942.
Dirinya mendapatkan pendidikan dasar di HIS Banyuwangi, MULO di Ketabang Surabaya, dan AMS di Malang.
Dalam perjalanan karirnya, tahun 1963 dirinya membentuk tim akupuntur negara.
Tim itu dipimpin oleh Prof. Dr. Oei Eng Tie yang bertugas memberikan pengobatan ala timur kepada Presiden Soekarno.
Dr Satrio juga pernah menjabat sebagai Ketua Palang Merah Indonesia pada tahun 1977 hingga 1982.
Atas jasanya tersebut, namanya kemudian diabadikan sebagai jalan penghubung antara kawasan Jalan Jenderal Sudirman (Sudirman) dan Jalan HR Rasuna Said (Kuningan) di Jakarta.
Dr Satrio eninggal dunia hari Senin, 5 Mei 1986 di Bandung. Dia meninggal saat memberikan ceramah penutupan pada peserta kursus reguler Sesmikad-Sesnikad di Sesko Angkatan Darat. (*)
Editor : Niklaas Andries