MUNCAR, Jawa Pos Radar Genteng – Setiap 7 November, masyarakat Indonesia memperingati Hari Wayang Nasional. Peringatan sakah satu warisan budaya tak benda UNESCO itu, di Banyuwangi diperingati dengan dilaksanakan festival.
Meski festival dilaksanakan setiap tahun, tapi minat akan kesenian wayang kulit ini terus menurun di Banyuwangi. Itu seperti dirasakan perajin wayang kulit di Dusun Krajan, Desa Tapanrejo, Kecamatan Muncar.
Di desa yang dikenal Kampung Matraman karena penduduknya banyak yang dari Jogjakarta itu, jumlah perajin wayang kulit kini hanya tersisa seorang yang setiap harinya masih aktif membuat pesanan. “Dulu banyak, sekarang yang masih aktif membuat wayang tinggal saya,” cetus Sutrisno, 75, Senin (6/11).
Menurut Sutrisno, jumlah perajin wayang kulit semakin sedikit. Ia juga kesulitan mencari generasi penerus. Padahal biasanya, membuat wayang itu diturunkan dari generasi ke generasi. “Sekarang banyak yang tidak mau belajar membuat wayang,” ungkapnya.
Darah seni membuat wayang kulit yang dimiliki Sutrisno, dari mendiang sang kakek. Kakeknya, dulu perantauan dari Jogjakarta yang bisa mendalang dan membuat wayang sendiri. “Kemampuan itu diturunkan ke ayah, dan ke saya,” terangnya.
Sutrisno menyebut, dari dua putranya hanya satu yang melanjutkan sebagai pembuat wayang kulit. Anaknya itu belajar otodidak. “Setelah bisa membuat wayang kulit akhirnya jadi pekerjaan dan ditekuni,” ujarnya.
Selain kehilangan generasi penerus, pembuatan wayang kulit juga dinilai tidak menguntungkan secara ekonomi. “Sekarang pesanan wayang kulit tidak sebanyak dulu. Satu bulan belum tentu dapat satu pesanan,” cetusnya.
Perajin wayang kulit lainnya, Riyono, 78, asal Dusun Krajan, Desa Tapanrejo, kini tidak terlalu aktif membuat wayang kulit. Ia hanya membuat kalau ada pesanan. “Kalau ada pesanan, saya ya buat,” ungkapnya.
Riyono mengaku lebih aktif bekerja sebagai dalang, meski jadwal pentas tidak sebanyak dulu. Ia tetap semangat menjalani masa tuanya, dengan melestarikan kesenian wayang kulit. “Tetap pentas jika ada yang mengundang, kalau tidak ada jadwal ya bertani,” imbuhnya.
Salah satu seniman Banyuwangi, Eko Susanto, 46, warga Lingkungan Sukowidi, Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro menyampaikan, kini perajin wayang kulit menghadapi tantangan dalam mempertahankan seni wayang kulit. “Minat masyarakat terhadap budaya tradisional, termasuk wayang kulit, cenderung menurun,” ujarnya.
Dengan kondisi itu, Eko berharap lebih banyak orang mulai menghargai seni tradisional. “Termasuk menghormati upaya perajin menciptakan karya seni yang berkualitas,” pungkas anak Sutrisno itu.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi