RadarBanyuwangi.id – Puluhan warga, mulai anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, berebut cendol dawet di tanah lapang Desa Labanasem, Kecamatan Kabat, Banyuwangi, Kamis (2/11).
Momen tidak biasa itu terjadi usai salat Istisqa yang digelar di lapangan Jalan Lingkar Baru Rogojampi, Banyuwangi, tersebut.
Salat Istisqa dan doa bersama meminta hujan digelar serentak di berbagai penjuru Bumi Blambangan, Kamis (2/11). Termasuk di wilayah Kecamatan Kabat.
Meski digelar di dekat area persawahan, hal itu tidak mengurangi antusiasme warga turut melaksanakan salat.
Rais Syuriah Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kabat Kiai Fu’ad Hasyim bertindak sebagai imam dan khatib salat Istisqa tersebut.
Ketua MWCNU Kabat Mashud mengatakan, salat Istisqa sengaja digelar di dekat persawahan mengingat masyarakat Kabat sebagian besar bermatapencarian sebagai petani.
Dampak kemarau ini sangat dirasakan oleh kalangan masyarakat yang bekerja di sektor pertanian. Bahkan, beberapa petani terpaksa tidak bercocok tanam akibat berkurangnya debit air.
”Salat Istisqa ini bagian ikhtiar agar segera turun hujan di Banyuwangi,” jelasnya.
Sementara itu, usai salat Istisqa, jemaah langsung berebut cendol dawet untuk diminum. Cendol dawet tersebut sengaja disajikan oleh masyarakat Dusun Popongan, Desa Benelan Lor, Kecamatan Kabat.
”Ini murni inisiatif warga menyajikan cendol dawet kepada jemaah salat Istisqa untuk pelepas dahaga usai doa bersama di bawah terik matahari,” jelas Kepala Desa Benalan Lor Khoirul Anam.
Selain sebagai pelepas dahaga, cendol dawet menjadi simbol harapan masyarakat agar hujan segera turun.
”Warga dan jemaah desa berharap hujan segera turun seperti cendol dawet yang diminum. Semoga Allah mengabulkan doa warga,” tandas Khoirul. (ddy/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin