GENTENG, Jawa Pos Radar Genteng – Harga cabai rawit yang terus meningkat di pasaran, membuat sejumlah petani waspada. Sebab, tanaman yang harganya sudah tembus Rp 70 ribu per kilogram itu berpotensi dicuri.
Sugeng Waluyo, 50, petani cabai rawit asal Dusun Krajan II, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng mengatakan, dengan dibantu beberapa buruh petik mempercepat waktu panen cabai di kebunnya. “Biasanya agak santai, sekarang harus agak cepat,” katanya Selasa (31/10).
Cabai rawit yang sudah mulai berwarna jingga hingga merah, segera dipetik. Biasanya, Sugeng memulai pemetikan sekitar pukul 07.00. “Kalau pagi sudah melihat ada cabai yang matang, langsung kita petik,” ujarnya.
Di sekitar lahannya yang ditanami cabai rawit, jelas dia, belum ada laporan terkait tindakan kriminal, seperti pencurian cabai. “Tapi tetap harus waspada, karena sekarang ini harga cabai rawit sedang tinggi,” ujarnya.
Usai memetik cabai, Sugeng tidak langsung pulang. Ia menunggu di sekitar kebun hingga pengepul datang membeli hasil panen. “Setelah cabai di tangan pengepul, baru berani pulang,” katanya.
Berbeda dengan Sugeng, petani cabai rawit lainnya, Wiwit Mulyani, 50, asal Dusun Krajan I, Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng malah lebih santai. “Tetap panen seperti biasa sesuai jadwal,” ungkapnya.
Wiwit tidak terlalu ambil pusing terkait kemungkinan adanya tindakan pencurian cabai rawit di kebunnya. “Masih belum ada cerita dari masyarakat soal pencurian, tapi tetap waspada,” imbuhnya.
Salah satu pedagang sembako di Pasar Jajag, Kecamatan Gambiran, Siti Aminah, 51, asal Dusun Krajan, Desa Jajag menyebut, harga cabai rawit hari ini mengalami penurunan. “Turun Rp 2000, sekarang (kemarin) harganya Rp 70 ribu per kilogram,” katanya.
Sementara itu, panas yang ekstrem pada kemarau ini berdampak serius pada tanaman cabai rawit. Saat ini, pertumbuhan tanaman terhambat bahkan cenderung kerdil terkena sengatan matahari berlebih.
Salah satu petani cabai rawit, Istiqomag, 42, yang menanam cabai di Dusun Jenisari, Desa Genteng Kulon, Kecamatan Genteng mengatakan tanaman cabai yang kini sudah memasuki panen, kondisinya tak setinggi ukuran normal. “Tidak seperti biasa (ukuran) cabainya, padahal kalau normal tingginya hampir sejajar tubuh saya,” katanya kepada Jawa Pos Radar Genteng Selasa (31/10).
Menurut petani asal Dusun Krajan, Desa Sragi, Kecamatan Songgon itu, terhambatnya pertumbuhan cabai ini karena cuaca panas yang berlebih. Asupan air ke daun ataupun batang tanaman relatif berkurang. Meski pasokan air di sawah masih mencukupi. “Air masih ada, punya saya tidak ada waringnya, mungkin terpengaruh dari panas matahari,” ungkapnya.
Senada dengan Istiqomah, tanaman cabai yang kerdil akibat cuaca panas ini juga dirasakan Samidi, 50, petani cabai asal Desa Jambewangi, Kecamatan Sempu. Selain sengatan matahari, sejumlah penyakit turut menjangkiti tanaman cabai, seperti hama kutu kebul atau kutu putih. “Hama (kutu putih) cepat berkembang saat cuaca panas seperti ini,” katanya.
Samidi mengatakan lebih dari 50 persen tanaman cabai miliknya keriting dan tidak dapat tumbuh dengan maksimal. Alasan utamanya hama kutu kebul yang menyerang. “Ini yang mempengaruhi harga cabai di pasaran (naik),” ujarnya.
Samidi menyebut cabai keriting komoditi yang paling rentan terkena hama ketimbang komoditas cabai lainnya. Sehingga penangananya harus optimal. “Kemarin kita telat penanganannya, sehingga menjangkiti tanaman lainnya,” ucapnya.
Dalam menangani hama, Samidi menggunakan cairan insektisida jenis EC dengan harga Rp 85 ribu per 100 mili yang hanya bisa digunakan untuk satu hektare lahan. “Dari 10 ribu batang, sebanyak 5000 batang cabai keriting rusak akibat hama yang di tanam di lahan seluas 20 hektare,” ujarnya.(gas/sas/abi)
Editor : Agus Baihaqi