Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Upaya Dinas PU Pengairan Mengantisipasi Banjir Banyuwangi; Keruk Sedimen Kalilo hingga Bangun Sumur Resapan

Gareta Yoga Eka Wardani • Rabu, 1 November 2023 | 01:00 WIB
KERUK LUMPUR: Belum lama ini tiga alat berat mengeruk sedimen Kalilo. Normalisasi sungai yang dilakukan Dinas PU pengairan diharapkan bisa mengurangi potensi banjir di kawasan kota Banyuwangi.
KERUK LUMPUR: Belum lama ini tiga alat berat mengeruk sedimen Kalilo. Normalisasi sungai yang dilakukan Dinas PU pengairan diharapkan bisa mengurangi potensi banjir di kawasan kota Banyuwangi.

RadarBanyuwangi.id – Dinas Pekerjaan Umum (PU) Pengairan mulai ”pasang kuda-kuda” untuk mengantisipasi banjir pada musim hujan. Di antaranya dengan mengangkat sedimentasi sungai hingga membangun sumur resapan.

Banjir di kawasan kota Banyuwangi masih menghantui warga. Banjir tahunan ini menjadi masalah serius jika tidak diantisipasi sejak dini.

Menghadapi musim hujan yang diperkirakan terjadi mulai Desember mendatang, Sungai Kalilo pun jadi fokus penanganan banjir.

Kendati endapan lumpur Kalilo sudah diangkat sejak beberapa bulan lalu, namun tetap harus menjadi perhatian terutama selama musim penghujan. Jika sewaktu-waktu Kalilo meluap, Dinas PU Pengairan menyiapkan rumah pompa dan kolam.

”Rumah pompa dan kolam kami buat di sejumlah lokasi. Di Kampung Ujung ada satu, Kampung Lebak juga satu. Kami juga sudah menggali sedimen di Sungai Kalilo, mulai dari muara sampai di jembatan dekat kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang lama,” ungkap Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Dinas PU Pengairan Deddy Koerniawan.

Deddy mengakui, Sungai Kalilo yang membelah kota Banyuwangi menjadi fokus Dinas Pengairan. Pengerukan sedimen terus dilakukan untuk mengurangi potensi banjir.

”Selain mengeruk sungai, kami juga memasang pompa untuk mengalirkan air dari permukaan tanah ke sungai lagi jika ada genangan. Langkah lainnya meninggikan tanggul sungai,” bebernya.

Kepala Dinas PU Pengairan Guntur Priambodo mengatakan, normalisasi Kalilo dilakukan secara bertahap sejak Maret 2023 di titik-titik kritis.

Endapan di sungai sudah banyak dikeruk, saluran-saluran yang mampet pun sudah kembali dinormalkan.

Secara teknis Kalilo akan lebih siap saat mendadak ada kenaikan debit air akibat hujan di area hulu sungai.

”Tahun lalu debit air mencapai 600 meter kubik per detik, tapi ini kan siklus. Mungkin sepuluh tahunan atau 25 tahunan. Jadi, tidak akan terjadi lagi tahun ini,” ujar Guntur. 

Dari normalisasi yang sudah dilakukan, Kalilo siap menampung debit air yang mencapai 600 meter kubik per detik.

Namun, jika nanti kembali terjadi peningkatan debit air secara signifikan, dia memprediksi paling tinggi debit air mencapai 400 meter kubik per detik.

”Saat ini masih normal, debitnya sekitar 25 liter per detik atau sekitar 5 sampai 10 meter kubik per detik,” imbuhnya.

Selain mengandalkan kedalaman dan lebar sungai yang sudah dinormalisasi, Guntur mengatakan, sejumlah pompa air disiapkan di beberapa titik pintu air yang ada di dekat permukiman warga.

Jadi jika nanti air meluap, tidak sampai menggenangi permukiman seperti sebelumnya.

”Tahun lalu debit sangat besar, kemudian ada sedimentasi parah, jadi air meluap. Tahun ini kita sudah gali 1,5 meter sedimen dan menormalkan lebar sungai menjadi 25 meter,” bebernya.

Pemkab Banyuwangi juga melakukan berbagai upaya lain untuk meminimalkan risiko banjir di Bumi Blambangan.

Tangkis Sungai Kalilo yang terletak di Kelurahan Kepatihan diperbaiki sekaligus ditinggikan. Plengsengan ini sempat ambrol akibat luapan yang menyebabkan banjir cukup parah di Kelurahan Kepatihan dan sekitarnya.

Banjir yang terjadi akhir November tahun lalu (28/11/2022) disebabkan intensitas hujan yang sangat tinggi selama dua jam sehingga drainase di wilayah kota tak mampu menampung air.

Akibatnya, sejumlah sungai termasuk Kalilo, mengalami overtopping hingga di atas tangkis penahan.

Perbaikan dan peninggian tangkis Kalilo di Lingkungan Krajan, Kelurahan Kepatihan, telah dilakukan. Dengan tangkis yang lebih kokoh dan tinggi, risiko banjir di lingkungan tersebut diharapkan berkurang.

Sejumlah faktor menjadi penyebab terjadinya banjir di Banyuwangi. Misalnya, adanya alih fungsi lahan di daerah hulu.

Dulunya pohon dan tanaman keras memenuhi daerah hulu, sekarang jadi tanaman sayuran seperti kentang dan lainnya. Akibatnya, air hujan yang jatuh tidak ada penahannya sehingga langsung mengalir ke sungai.

Fenomena seperti ini pernah terjadi di Desa Alasmalang. Air sungai di dekat Dam Gurit meluap hingga masuk ke rumah warga.

Jembatan tersumbat batang kayu besar yang datang dari hulu. Untuk mengatasi banjir seperti di Desa Alasmalang, PU Pengairan menyiapkan dua alat berat di kantor Korsda Singojuruh.

PU Pengairan juga menyiagakan personel di area hulu seperti Kecamatan Licin dan Songgon. Ketika debit air di daerah tersebut tinggi, PU Pengairan langsung siaga sehingga warga bisa terhindar dari banjir. (rei/aif/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#endapan lumpur #banjir #Kalilo #keruk #banyuwangi #pengairan #permukiman