Jawa Pos Radar Banyuwangi – Imbas pembangunan empat segmen jembatan di Kecamatan Wongsorejo mulai dirasakan penyelenggara pelabuhan.
Dalam dua bulan terakhir, jumlah kendaraan yang menyeberang ke Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Pelabuhan Ketapang turun hingga 20 persen.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Jatim I Putu Widiana mengatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab pengguna jasa penyeberangan rute Ketapang–Lembar menurun.
Salah satunya adalah pembangunan jembatan di Wongsorejo yang membuat sopir-sopir kendaraan logistik enggan menyeberang melalui Banyuwangi.
Sebab, imbuh Putu, sopir kendaraan logistik harus terjebak macet selama 1,5 jam sampai 2 jam saat melewati lokasi pembangunan jembatan.
“Daripada terjebak macet, mereka memilih menyeberang dari Surabaya. Memang ada selisih harga, tapi masih mending jika dihitung perjalanan ke Banyuwangi,” ujarnya.
Selain pembangunan jembatan, imbuh Putu, saat ini di Surabaya juga ada penambahan jumlah kapal jurusan Lembar.
Dari sebelumnya empat kapal menjadi enam kapal. Tidak hanya itu, kapal dari Pelabuhan Tanjung Wangi juga ditambah, yakni dari sebelumnya dua kapal menjadi tiga kapal.
”PT ALP sudah mengoperasikan tiga kapal yaitu, Mutiara Barat, Mutiara Sentosa, dan Mutiara Persada. Surabaya ada enam kapal dengan ukuran lebih besar dari yang di Ketapang, jadi ini ikut mempengaruhi penurunan jumlah penumpang kapal antara 10 sampai 20 persen,” jelas Putu.
Tak hanya dari Ketapang, kondisi penumpang dari Pelabuhan Lembar juga cukup sepi. Banyak yang memilih langsung ke Surabaya, terutama kendaraan logistik tanpa muatan dari arah NTB.
”Prediksi kita mungkin nanti di awal tahun 2024 kembali normal,” kata Putu.
Sementara itu, General Manager (GM) PT ASDP Ketapang Syamsudin menambahkan, sudah dua bulan terakhir terjadi penurunan demand untuk rute Ketapang–Lembar.
Dia juga mengatakan, jumlah kendaraan yang dari Lembar jauh lebih sedikit dibandingkan kendaraan yang menyeberang dari arah Ketapang.
”Ada penambahan kapal dari arah Surabaya, kemudian jumlah komoditas pertanian dari NTB mengalami gangguan akibat El Nino sehingga jumlah logistik yang berangkat dari sana berkurang,” ujarnya. (fre/sgt/c1)
Editor : Ali Sodiqin