Jawa Pos Radar Banyuwangi – Kebakaran lahan kembali terjadi di sekitar cagar alam Kawah Ijen sejak Senin sore (9/10). Hingga Selasa (10/10) api masih membakar vegetasi yang berjarak 2 kilometer (km) dari jalur pendakian Kawah Ijen.
Dari informasi yang diperoleh Jawa Pos Radar Banyuwangi, awalnya api muncul di sekitar Gunung Midodoren, masuk wilayah Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso.
Begitu api membesar, relawan, pegawai BKSDA, serta pelaku wisata di sekitar Taman Wisata Alam (TWA) Ijen berupaya memadamkan api.
Kepala TWA Ijen Sigit Hari Bowo mengatakan, saat ini api merembet ke area Gunung Papak. Lokasinya berada di dekat Kalipait yang berada di sisi barat jalur pendakian. Sigit melihat kepulan asap kebakaran sejak Senin sore sekitar pukul 15.00 WIB.
Setelah melihat kepulan asap, pihaknya bersama petugas Resort Konservasi Wilayah (RKW) 18 Kawah Ijen dan pelaku wisata TWA Ijen langsung melakukan pemadaman.
”Kepulan asap berasal dari hutan di kawasan Perhutani di wilayah Cangkringan. Api terus merembet hingga ke kawasan cagar alam Kawah Ijen, tepatnya di sekitar Gunung Papak,” kata Sigit.
Upaya pemadaman tidak mudah. Pasalnya, secara topografi medan yang terbakar cukup sulit dijangkau. Butuh waktu 1,5 jam dengan berjalan kaki untuk mencapai lokasi kebakaran.
Pemadaman dilakukan dengan menggunakan jet shooter dan alat pemadam seadanya seperti gebyok atau ranting pohon yang masih basah.
”Lokasinya sulit dijangkau, apalagi membawa barang-barang atau jet shooter ke lokasi,” imbuh Sigit.
Meski demikian, pihak TWA Ijen tetap menyiapkan armada yang membawa jet shooter di sekitar Kalipait. Armada ini disiapkan jika ada petugas atau relawan yang mampu membawa jet shooter ke lokasi kebakaran.
Terkait penyebab kebakaran, Sigit menduga bukan akibat faktor alam. Hasil mitigasi yang dilakukan di lokasi awal titik api, kemungkinan pemicu api berasal dari nonalam.
Sebab, saat petugas mengecek ke lokasi kepulan asap di kawasan Perhutani, api sudah muncul. ”Kita tidak menemukan ada orang di situ,” imbuhnya.
Hingga siang kemarin, relawan dan petugas BKSDA masih terus berupaya memadamkan api. Sigit mengatakan, kawasan yang terbakar didominasi vegetasi ilalang dan tanaman pakis.
Kedua jenis tanaman ini memang mudah terbakar di tengah kemarau seperti sekarang.
”Kita mengantisipasi jangan sampai seperti tahun 2019 lalu. Sampai saat ini lahan yang terbakar diperkirakan sudah mencapai puluhan hektare,” tandasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin