RadarBanyuwangi.id – Kemacetan yang kerap terjadi akibat pembangunan jembatan di Desa Alasbuluh, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, tampaknya memerlukan penanganan khusus.
Polresta Banyuwangi tengah menyiapkan skema one gate system agar pengguna jalan tidak terjebak berjam-jam di jalur tersebut.
Kapolresta Banyuwangi Kombespol Deddy Foury Milewa mengatakan, untuk sementara skema rekayasa yang digunakan di jalur Situbondo–Banyuwangi masih manual.
Petugas dari Satlantas dan Polsek Wongsorejo melakukan pengaturan jalur. Ada 20 personel yang bertugas untuk mengurai kemacetan dengan menggunakan sistem buka tutup.
Namun, di waktu-waktu tertentu, kerap terjadi kemacetan yang cukup parah. Apalagi dengan adanya beberapa kendaraan yang ”ngeblong” karena diarahkan beberapa orang. Petugas harus melakukan pengawasan lebih ketat agar bisa mencegah terjadinya kemacetan.
”Memang banyak yang ngeblong karena personel kami siagakan di area macet dan persimpangan dekat jembatan untuk ikut mengatur buka tutup,” jelasnya.
Jika kondisi semakin parah, apalagi mendekati musim libur Natal dan Tahun Baru (Nataru), Polresta Banyuwangi sudah menyiapkan contra flow.
Caranya dengan menggunakan one gate system. Kendaraan yang masuk Banyuwangi dari luar kota hanya melalui satu jalur. Entah itu dari Jember atau dari Situbondo.
Dengan begitu, kemacetan di jalur utara benar-benar bisa diminimalisasi. Setidaknya, tidak terjadi kemacetan panjang akibat kendaraan yang mau masuk ke Banyuwangi dan keluar Banyuwangi di titik yang sama.
”Ini akan menjadi solusi terakhir, kalau mendekati Desember nanti macet, kita buat one gate. Yang dari luar kota bisa masuk lewat Jember kemudian keluar lewat Situbondo atau sebaliknya,” tegasnya.
Sementara itu, kemacetan akibat pembangunan jembatan di empat segmen di wilayah Kecamatan Wongsorejo dikeluhkan pengguna jalan.
Miswanto, 43, salah seorang driver mobil travel mengaku kerap terjebak macet terutama saat melintas di Jembatan Alasbuluh.
Tak tanggung-tanggung, pada weekend Miswanto mengaku pernah terjebak sampai lebih dari dua jam.
”Kalau mau nyerobot bisa, mbayar orang yang di pinggir jalan. Kalau normal bisa terjebak macet. Terutama malam hari,” ujarnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin