RadarBanyuwangi.id – Sejumlah petani di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, menggelar ritual Dawuhan di Dam Pugat, (Rabu 4/10).
Ritual dilakukan setelah debit air sungai terus menurun sejak puncak kemarau pada awal September 2023 lalu.
Sebelum ritual digelar, puluhan petani yang berasal dari dua kelompok Gapoktan melakukan bersih-bersih aliran dam.
Mereka membersihkan tanaman liar yang tumbuh di aliran Sungai Gulung yang mengalir menuju Dam Pugat.
Usai bersih-bersih, petani melantunkan doa sembari menggelar selamatan di dekat dam. Menu khas pecel pitik tak bisa dipisahkan dari pelengkap sajian ritual.
Kepala Desa Kemiren M. Arifin mengatakan, ada 65 petani yang mengikuti ritual Dawuhan. Mereka berasal dari Gapoktan Kismis dan Gapoktan Maru Nangka.
”Sebelum ritual dimulai, kita bersihkan dulu dam sungai supaya airnya lancar. Selanjutnya, kita gelar selamatan dan berdoa supaya debit air naik,” kata Arifin.
Dam Pugat mengairi 40 hektare sawah milik warga. Jika terjadi penurunan debit air di dam tersebut, petani khawatir akan mengganggu produktivitas tanaman di area sawah.
”Sudah satu bulan debit air menurun, tapi tidak sampai mengganggu sawah. Petani berharap tanahnya tidak sampai kering,” imbuh Arifin.
Selain pecel pitik, ritual diakhiri dengan membakar dupa, tepat di dekat pintu air Dam Pugat. Tradisi ini sudah berjalan turun-temurun, terutama di tengah puncak musim kemarau.
”Petugas desa dan pengurus Hippa ikut datang. Mereka membantu petani membersihkan saluran air,” tandas Arifin. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin