RadarBanyuwangi.id – Tempat Pengolahan Sampah (TPS) berkapasitas 84 ton per hari di Desa Balak, Kecamatan Songgon, resmi beroperasi.
Peresmian tempat pengolahan sampah sirkuler dan berkelanjutan sebagai bagian inisiatif Program Banyuwangi Hijau tersebut dilakukan langsung Bupati Ipuk Fiestiandani Sabtu lalu (16/9).
Selain Bupati Ipuk, prosesi peresmian TPS yang didukung penuh pemerintah Norwegia itu juga dihadiri Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN RB) Abdullah Azwar Anas.
Hadir pula Duta Besar (Dubes) Norwegia untuk Indonesia Rut Kruger Griverin.
Bupati Ipuk mengatakan, kobocoran sampah ke lingkungan dapat dicegah melalui kerja sama seluruh pemangku kepentingan.
“Melalui inisiatif Program Banyuwangi Hijau, kami bekerja bersama untuk melakukan perbaikan nyata bagi kesehatan lingkungan dan masyarakat Banyuwangi,” ujarnya meresmikan TPS Balak.
Program Banyuwangi Hijau telah melibatkan setidaknya 800 pendorong perubahan dari kelompok masyarakat, pemerintahan kabupaten, kecamatan, desa, kelompok akademisi, dan organisasi masyarakat.
“Saya berharap fasilitas ini tidak hanya menjadi tempat pengolahan sampah, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan inspirasi bagi masyarakat,” kata Ipuk.
TPS ini merupakan pelaksanaan program Banyuwangi Hijau sebagai upaya pengendalian sampah, khususnya sampah plastik dengan memilah sampah langsung dari rumah tangga.
Sekadar diketahui, Banyuwangi Hijau merupakan kelanjutan dari Project Stop (Stop Ocean Plastics) yang sukses dijalankan di Kecamatan Muncar sejak 2018 oleh non government organization (NGO) PT. Systemiq Lestari Indonesia yang didanai pemerintah Norwegia dan institusi bisnis Borealis dari Austria.
Untuk keperluan pembangunan TPS Balak, Pemkab Banyuwangi mengalokasikan lebih dari 1,5 hektare (Ha) lahan dengan kapasitas untuk mengolah 84 ton sampah per hari.
TPS ini mampu melayani kebutuhan pengolahan sampah di enam kecamatan sekitar.
Kapasitas pelayanan TPS ini sekitar 250 ribu penduduk atau 55.491 rumah.
Fasilitas ini dilengkapi dengan teknologi pengolahan sampah, antara lain conveyor belt, baler, peralatan komposting, kendaraan pengangkut sampah, dan lain sebagainya.
TPS Balak juga telah dilengkapi untuk secara efisien mengolah sampah organik dan non-organik yang sebagian besar berasal dari rumah tangga di wilayah layanan.
Ke depan operasional fasilitas ini diharapkan mampu mempekerjakan sekitar 200 karyawan dalam skala penuh.
Director Sustainability and Public Affairs Borealis, yakni Markus Horcher mengatakan, Banyuwangi Hijau merupakan perluasan jangkauan dari pengelolaan sampah di Muncar pada tahun 2018 melalui Project STOP.
“Kami berharap inisiatif ini dapat menjadi inspirasi dan cetak biru bagi program lain untuk mempercepat perwujudan ekonomi sirkuler dan menghindari pencemaran sampah ke lingkungan,” harapnya.
Sementara itu, Dubes Norwegia untuk Indonesia Rut Kruger Griverin berharap TPS ini tidak hanya pengelolaan sampah, namun juga memberikan dorongan bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan.
“Kita tidak bisa hanya bereaksi, tetapi juga beraksi. Kerja sama di daerah adalah kunci untuk mengatasi permasalahan sampah,” ujarnya.
Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Sampah Lingkungan dan Kehutanan Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi (Kemenkomarves) Nani Hendiarti yang turut hadir peresmian tersebut mengapresiasi program Banyuwangi Hijau.
“Saat ini pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi sampah laut sebesar 70 persen pada 2025. Banyuwangi lebih dulu memikirkan permasalahan sampah dibanding kabupaten lain, bahkan kota besar di Indonesia,” pungkasnya. (sgt)
Editor : Ali Sodiqin