Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Antisipasi Penyebaran Penyakit Tuberculosis di Komplek Lapas Banyuwangi, Semua Napi di-Skrining TBC

Bagus Rio Rohman • Jumat, 15 September 2023 | 22:30 WIB
SKRINING: Sejumlah warga binaan menjalani pemeriksaan kesehatan di kompleks Lapas Banyuwangi, Kamis (14/9).
SKRINING: Sejumlah warga binaan menjalani pemeriksaan kesehatan di kompleks Lapas Banyuwangi, Kamis (14/9).

RadarBanyuwangi.id – Menjadi narapidana bukan berarti kehilangan akses untuk mendapat layanan kesehatan.

Bukan hanya layanan pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit. Setidaknya hal itu dibuktikan pihak Lapas Kelas IIA Banyuwangi.

Institusi yang satu ini menggelar skrining penyakit tuberkulosis (TBC) bagi seluruh warga binaan, Kamis (14/9).

Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banyuwangi punya gawe besar. Satu demi satu warga binaan pemasyarakatan (WBP) ”dipanggil”.

Mereka harus menghadap petugas di salah satu ruangan kompleks bangunan yang berlokasi di Jalan Letkol Istiqlah, Banyuwangi, tersebut.

Bukan untuk menjalani penyidikan atas dugaan pelanggaran aturan. Apalagi, untuk mendapat kupon pembagian sembako murah. Para WBP tersebut menghadap petugas untuk mendapat layanan kesehatan.

Ya, Lapas Kelas IIA Banyuwangi menggelar layanan skrining alias deteksi penyakit tuberkulosis (TBC) bagi seluruh warga binaan mulai Kamis (14/9).

Skrining tersebut merupakan program yang digeber Direktorat Jenderal (Dirjen) Pemasyarakatan.

Metode yang digunakan untuk mendeteksi penyakit tersebut adalah Intervensi Chest X-Ray (CXR) alias rontgen dada.

Pelaksanaan skrining CXR dilakukan oleh tim dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Banyuwangi yang juga bekerja sama dengan tim vendor.

Pemeriksaan tersebut bertujuan mengantisipasi penyebaran penyakit TBC di lingkungan lapas.

Kepala Lapas Banyuwangi Wahyu Indarto mengatakan, skrining TBC dengan intervensi rontgen dada tersebut bertujuan untuk mengoptimalkan angka penemuan kasus TBC secara aktif dan masif pada kelompok komunal yang berisiko tinggi atau rentan terhadap penularan.

Wahyu menyebut, setiap warga binaan melalui tiga tahap pemeriksaan, yaitu skrining gejala, skrining CXR, dan pemeriksaan TCM.

”Skrining gejala dilakukan secara mandiri oleh petugas kesehatan Lapas Banyuwangi,” jelasnya.

Wahyu menjelaskan bahwa lapas menjadi salah satu lingkungan yang rentan terhadap penularan TBC.

Hal itu, salah satunya dipicu padatnya penghuni dan jangka waktu kebersamaan dari warga binaan yang terbilang cukup lama.

”Lapas Banyuwangi saat ini dihuni oleh 991 orang, kapasitas idealnya hanya dihuni oleh 260 orang,” terangnya.

Wahyu menuturkan, kegiatan tersebut akan berlangsung selama lima hari. Jika terdapat warga binaan yang terindikasi infeksi TBC, maka akan dilakukan pemeriksaan dan pengobatan lebih lanjut.

”Jika ditemukan indikasi kasus, mereka akan ditempatkan di kamar khusus untuk perawatan selanjutnya. Sehingga, memudahkan perawatan dan pengobatan serta mencegah penularan pada warga binaan yang lain,” terangnya.

Wahyu menegaskan, pihaknya akan mendukung penuh program pemerintah dalam memutus rantai penularan penyakit TBC, khususnya di lingkungan lapas.

”Pengobatan TBC tentunya akan ditanggung oleh pemerintah. Asal patuh terhadap prosedur pengobatan penyakit TBC bisa disembuhkan,” pungkasnya. (rio/sgt/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#banyuwangi beach #dinas kesehatan #warga binaan #skrining #tbc #lapas banyuwangi #napi