Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sambut Maulid Nabi Muhammad SAW, Warga Desa Kelir Gelar Sego Golongan

Ali Sodiqin • Rabu, 13 September 2023 | 01:40 WIB
REBO WEKASAN: Warga Dusun Krajan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, menggelar sego golongan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ii digelar di hari Rabu terakhir bulan Safar.
REBO WEKASAN: Warga Dusun Krajan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro, menggelar sego golongan menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi ii digelar di hari Rabu terakhir bulan Safar.

RadarBanyuwangi.id – Tradisi Rebo Wekasan masih tetap dilestarikan oleh sebagian masyarakat Banyuwangi hingga saat ini. Salah satunya adalah warga Dusun Krajan, Desa Kelir, Kecamatan Kalipuro.

Selasa sore kemarin (12/9), sekitar pukul 16.30 warga desa ini menggelar selamatan sego golong di pinggir jalan desa setempat.

Dalam budaya Jawa, tradisi ini rutin digelar tiap Rabu terakhir di Bulan Safar atau bulan ke-2 dari 12 bulan penanggalan Hijriyah.

“Tujuan selamatan sego golong ini untuk menyambut datangnya bulan Robiul Awal atau Maulid Nabi Muhammad SAW. Sekaligus tolak balak. Juga agar rezeki kita makin ditambah dan barakah,” ujar Murtaqi, 55, warga setempat.

Menurut Murtaqi, masyarakat Desa Kelir sebetulnya tidak terlalu mengenal istilah Rebo Wekasan yang lebih umum dikenal sebagai budaya Jawa.

“Namun, mereka lebih mengenalnya dengan istilah sego golong atau sego golongan,” ungkap Murtaqi.

Saropah, warga lainnya mengatakan, hidangan yang disajikan dalam tradisi ini berupa nasi putih yang dibentuk bulatan sebesar kepalan tangan orang dewasa.

Untuk lauknya biasanya didominasi telur bulat. Bisa yang sudah diberi ragi, atau dibiarkan utuh.

“Yang unik dari tradisi ini, hidangan semuanya berasal dari warga. Biasanya satu keluarga membawa dua atau tiga sego golong,” katanya.

Pada Selasa sore menjelang Maghrib, sego golong ini lantas dikumpulkan di pinggir jalan secara berkelompok. Satu kelompok berisi 15-25 orang.

Selanjutnya, warga ngirim duo (kirim doa) kepada leluhur, melantunkan dzikir, dan doa-doa yang dipimpin tokoh agama setempat.

“Setelah selesai, mereka lantas makan secara bersama-sama. Sego golong miliknya tidak boleh dinikmatinya sendiri. Melainkan harus memakan milik orang lain. Artinya saling tukar-menukar makanan,” pungkas Saropah. (als)

Editor : Ali Sodiqin
#tradisi #nabi muhammad saw #rebo wekasan #Safar #maulid #banyuwangi #sego