Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Disbudpar Banyuwangi Teliti Temuan Dakon Diduga Peninggalan Prasejarah Abad ke-3

Ayu Lestari • Kamis, 27 Juli 2023 | 16:00 WIB
UKUR: Kurator Museum Blambangan meneliti temuan batu berbentuk dakon di Kecamatan Muncar, Selasa lalu (25/7).
UKUR: Kurator Museum Blambangan meneliti temuan batu berbentuk dakon di Kecamatan Muncar, Selasa lalu (25/7).

RadarBanyuwangi.id Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi kembali melakukan penelitian terhadap temuan yang diduga benda prasejarah. Benda kuno yang ditemukan di lingkungan SDN 4 Sumberberas, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, itu diduga berasal dari abad ke-3.

Kurator Museum Blambangan sekaligus Tim Arkeolog Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi Bayu Ari Wibowo mengatakan, benda prasejarah yang ditemukan tersebut berupa batu berbentuk dakon yang diperkirakan ada sejak zaman Megalitik. Temuan tersebut berjumlah delapan buah batu yang tersebar di bukit sekitar sekolah.

Ukuran batu-batu tersebut cukup bervariatif. Paling besar memiliki lebar 33 centimeter (cm) dengan panjang 43 cm. Sedangkan ukuran paling kecil kurang lebih 12 cm.

”Batu dakon adalah jenis penemuan tertua, sekaligus benda prasejarah pertama di kawasan Muncar. Karena kebanyakan penemuan di sana berupa artefak peninggalan budaya Hindu-Buddha,” ujar Bayu.

Bayu mengaku, seperti namanya yakni dakon, batu yang ditemukan juga berbentuk layaknya congklak dan memiliki lubang. Menurutnya, batu berlubang tersebut difungsikan untuk menghitung penanggalan panen atau biasa disebut ”pranata mangsa”.

”Temuan kali ini berada di kawasan bukit atau tempat yang cukup tinggi. Salah satu alasan yang bisa saya sampaikan, mungkin karena orang dulu menganggap tempat yang tinggi adalah tempat yang suci untuk berbadah,” tutur Bayu.

Saat ini batu berlubang tersebut telah masuk dalam salah satu data penemuan di Disbudpar. Selanjutnya, penemuan tersebut akan dirawat dan nantinya bisa dijadikan sebagai open site museum atau museum situs terbuka untuk meningkatkan daya tarik wisata sejarah.

Bayu berharap, dengan adanya penemuan tersebut ke depannya masyarakat sekitar juga bisa memperkaya diri dengan khazanah keilmuan dan sejarah.

”Kami berharap masyarakat juga turut merawat temuan-temuan sejarah yang ada di lingkungannya dengan baik. Adanya peninggalan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sejarah memang tidak akan pernah hilang,” tandasnya. (tar/als/c1)

Editor : Ali Sodiqin
#Kebudayaan #museum #kuno #megalitik #sejarah #prasejarah #dakon