RadarBanyuwangi.id – Sudah sepekan ini cuaca ekstrem melanda perairan Selat Bali. Ombak masih tinggi, angin laut bertiup. Gara-gara ombak tinggi, sejumlah truk yang diangkut kapal tujuan pelabuhan Ketapang terguling, Sabtu malam 22/7).
Dua kapal yang dihantam ombak adalah KMP Tunu Pratama Jaya dan KMP Gerbang Samudra 5.
Di KMP Gerbang Samudra 5, tiga truk saling bertindihan. Yaitu truk nopol DK 6162 FZ warna hijau, truk nopol T 9312 DF warna oranye, dan truk warna cokelat nopol P 9615 UR. Yang paling parah terlihat terjadi pada truk berwarna oranye. Posisinya miring hingga 90 derajat akibat kencangnya ombak.
Korsatpel Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Jatim Wilayah Ketapang Rocky Surentu membenarkan jika kejadin tersebut terjadi akibat cuaca buruk di selat Bali. Beberapa truk menurutnya terguling lantaran besarnya ombak yang ada di tengah lautan. "Sudah dievakuasi begitu tiba di pelabuhan LCM. Untuk kendaraan yang rusak di-cover asuransi dari Jasa Raharja," kata Rocky.
Cuaca buruk yang terjadi kemarin malam juga mengakibatkan salah satu dermaga LCM tidak bisa difungsikan. Kondisi ombak yang cukup tinggi tidak memungkinkan kapal untuk sandar.
Rocky menambahkan, kondisi cuaca saat ini benar-benar harus diwaspadai oleh para penyedia jasa transportasi pelayaran. Sesuai prediksi BMKG, cuaca buruk berpotensi terus terjadi hingga bulan Agustus nanti.
Rocky meminta semuanya untuk waspada. Baik itu nakhkoda maupun perusahaan kapal untuk menyiapkan armadanya dalam kondisi safety. "Sebenarnya truk sudah di-lashing. Saking kuatnya ombak, truk terguling,’’ kata Rocky.
Sementara itu, Kapal Motor (KM) Mutiara Barat yang mengangkut 144 penumpang dari Pelabuhan Gili Mas, NTB seharusnya sudah tiba di Banyuwangi pada Jumat malam (21/7) malam. Gara-gara kehabisan bahan bakar di perjalanan, kapal baru tiba di Pelabuhan Tanjungwangi pada Minggu pagi (23/7).
Sesuai jadwal, perjalanan kapal seharusnya memakan waktu 12 jam. Sayangnya, begitu melintasi perairan Bali, kapal mengalami trouble mesin. Awak kapal langsung melakukan perbaikan.
Selama proses perbaikan berlangsung, penumpang kapal harus bersabar menunggu berjam-jam di atas kapal yang terapung di tengah perairan. Setelah mesin normal, nakhoda melihat persediaan bahan bakar tidak cukup untuk dibawa ke Pelabuhan Tanjungwangi.
Akhirnya nakhoda membawa kapal ke Pelabuhan Celukan Bawang di Singaraja untuk mengisi BBM. Kapal pun melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.
Kasi Keselamatan Berlayar Penjagaan dan Patroli KSOP Tanjungwangi Widodo mengatakan, pihaknya sudah memberikan teguran kepada perusahaan kapal terkait peristiwa tersebut.
Proses perhitungan pengisian bunker BBM harus dilakukan dengan cermat agar tidak terjadi peristiwa serupa. "Kita sudah sampaikan ke manajemen agar tidak mengisi bahan bakar terlalu ngepres, supata tidak terjadi lagi," tegasnya.
Marine Inspector dari KSOP hanya melakukan pengecekan untuk melihat kondisi mesin kapal. Begitu dinyatakan layak, kapal diperbolehkan untuk berlayar.
"Kapal sandar pukul 04.30, pukul 06.00 sudah selesai bongkar. Dari manifes ada 144 penumpang, 71 kendaraan karho dan 57 unit kendaraan campuran. Semuanya selamat," tandasnya. (fre/aif)
Editor : Ali Sodiqin