Pengendali Ekosistem Hutan TN Alas Purwo Wahyu Murdyatmaka mengatakan, dari analisis terakhir ada 36 sampai 40 ekor macan tutul yang hidup di Alas Purwo. Puluhan satwa tersebut tersebar di wilayah seluas 440 kilometer persegi. Luasan tersebut masih dikategorikan normal, melihat jangkauan berburu macan tutul mencapai 7 sampai 10 kilometer persegi untuk setiap ekornya.
Terkait dengan kemunculan macan tutul di wilayah Telunjuk Raung, Wahyu memastikan binatang tersebut berbeda dengan macan tutul yang berhabitat di Alas Purwo. Dia menjelaskan, macan tutul di Alas Purwo dan sekitar Gunung Raung memiliki tipologi habitat yang berbeda.
Macan tutul Alas Purwo adalah tipikal yang tinggal dan berburu di wilayah low land rain forest atau dataran hutan rendah di bawah 300 mdpl. Sedangkan macan tutul yang ditemukan di lereng Gunung Raung adalah tipikal yang tinggal dan berburu di wilayah pegunungan.
Macan tutul yang tinggal di pegunungan memiliki jangkauan perburuan yang lebih luas dibanding yang tinggal di hutan dataran rendah. Apalagi, ketika tidak ada ancaman, macan tutul pegunungan bisa memperluas areal perburuan.
”Tentu beda antara yang di Alas Purwo dengan yang di Raung. Yang di pegunungan, ada mangsa dan wilayah ancamannya rendah. Binatang tersebut bisa memperluas wilayah buruan,” tegas Wahyu.
Terkait jenis macan tutul di Alas Purwo dan Raung, kata Wahyu, keduanya adalah spesies yang sama. Binatang tersebut turunan dari macan tutul afrika (Panthera pardus pardus) yang biasa disebut macan tutul jawa (Panthera pardus melas). ”Ada warna tutul, ada yang warna hitam. Masyarakat menyebutnya macan kumbang. Keduanya satu jenis, macan kumbang punya genetik negatif sehingga terlihat hitam legam,” jelasnya.
Wahyu mengaku belum bisa memastikan berapa jumlah macan tutul yang tinggal di sekitar wilayah pegunungan Banyuwangi. Dia pernah membantu BKSDA memasang kamera trap di sekitar hutan lindung di bawah Gunung Ijen. Hasilnya, dari delapan kamera trap, dua di antaranya menangkap keberadaan macan tutul jawa. ”Macan tutul di Ijen berburu secara individu, sama seperti harimau. Untuk bangsa kucing yang berkoloni hanya singa,” tandasnya. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud