CLURING, Jawa Pos Radar Genteng- Asyari Sulaiman, 35, yang tinggal di Dusun Plosorejo, Desa Kaliploso, Kecamatan Cluring, ini termasuk kreatif. Bapak dua anak itu, memanfaatkan lahannya yang tidak terlalu luas dengan membudidayakan pohon anggur varietas impor.
Membudidayakan pohon anggur ini, sebenarnya cukup beresiko. Selain perawatannya yang butuh ekstra, ancaman dicuri maling juga mengincar. “Tanaman anggur itu butuh perawatan yang spesial,” terang Asyari Sulaiman.
Di kampungnya Dusun Plosorejo, Desa Kaliploso, banyak petani yang menanam buah-buahan, terutama jeruk dan buah naga. Tapi, yang mencoba menanam buah anggur belum ada. “Saya sendiri yang menanam anggur, terutama varietas impor,” terangnya.
Asyari mengaku tertarik membudidayakan anggur impor ini setelah bergabung dengan grup media sosial. Dalam grup itu, ada yang menawarkan budidaya anggur. “Saya tertarik dan belajar membudidayakan,” jelasnya.
Sebagai petani, Asyari sudah biasa menanam padi, buah, atau jenis tanaman lainnya. Tapi untuk budidaya anggur, dianggap pengalaman baru. “Saya yang sering menanam cabai,” ungkapnya pada Jawa Pos Radar Genteng.
Untuk memulai budidaya anggur impor, Asyari mengaku mulanya mendapatkan benih secara gratis dari kenalannya di media sosial. “Benih itu saya tanam di kebun, ini masih coba-coba,” ungkapnya.
Menurut Asyari, percobaan menanam anggur varietas impor itu tidak mudah. Iklim yang berbeda dengan negara asalnya, kerap membuat buah anggur tidak sesuai standar. “Buah anggur yang bagus itu buahnya keras, tidak lembek seperti kebanyakan air,” jelasnya.
Asyari yang sudah membudidaya anggur impor sejak 2020 itu, telah mencoba 300 varietas anggur dari berbagai negara di Asia, Eropa, dan Amerika.Tapi, kini hanya lima varietas yang dipilih untuk dikembangkan di kebun miliknya dengan luas 0,1 hektare. “Hanya lima varietas yang cocok,” katanya.
Kelima varietas anggur yang dibudidayakan itu, jelas dia, Sermuscat, Academic, Trasfigurasi, Everest, dan Gosh V. Lima varietas itu, bisa menyesuaikan dengan iklim di daerahnya. “Hanya lima varietas yang bisa menghasilkan buah padat dan keras,” cetusnya.
Saat ini Asyari telah memiliki 50 pohon anggur di kebunnya. Jumlah itu belum termasuk tiga pohon anggur transfigurasi yang dikembangkan di halaman rumahnya. Dari 50 pohon anggur itu, potensi penghasilannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. “Satu pohon bisa menghasilkan lima kilogram anggur, harga jualnya antara Rp 50 ribu hingga Rp 80 ribu per kilogram,” jelasnya.
Sayangnya, buah anggur yang ditanam itu sering menghilang sebelum dipanen karena dicuri orang. Bahkan, sampai sekarang belum pernah sukses panen full dari kebun. “Hanya tinggal beberapa saja yang selamat dan bisa dijual lewat media sosial atau ke tetangga,” ungkapnya.
Selain membudidayakan anggur impor, Asyari yang hanya lulusan SMA itu membuka jasa pelatihan budi daya anggur. Untuk pelatihan ini, tidak mematok tariff. “Sukarela aja, saya ajari sampai bisa,” katanya.
Budidaya anggur impor sebenarnya tidak sulit. Tapi membutuhkan ketelatenan. Anggur itu tanaman yang mudah disetel tingkat pertumbuhan, jumlah buah, sampai kualitasnya. “Tapi akan sulit bagi orang yang kurang telaten merawat,” pungkasnya.(cw3/abi) Editor : Agus Baihaqi