Plt Kepala DLH Banyuwangi Dwi Handayani mengatakan, di TPSA Tegalwero, Kecamatan Blimbingsari salah satunya. Di sana para pengumpul sampah bisa mendapatan uang Rp 4 juta sampai Rp 8 juta setiap bulanya dari sampah. Bahkan, ada 100 pengumpul sampah yang beroperasi di wilayah tersebut.
Warga yang menggantungkan hidup dari TPSA Tegalwero sempat protes saat dipindah ke Bangsring. Mereka tak bisa lagi mengais rejeki dari sampah. "Di Tegalwero, mengumpulkan sampah sejak pagi sampai pukul 11.00 bisa mendapat Rp 4 juta sebulan. Kalau sampai pukul 16.00, penghasilan bisa bertambah. Sebulan bisa dapat Rp 8 juta. Ini kan pemasukan yang lumayan sebenarnya,’’ kata Dwi.
Di Bangsring, beberapa pengumpul sampah juga mendapatkan manfaat tersebut. Beberapa orang yang sempat ditanyai mengaku bisa mengumpulkan uang Rp 150 ribu per hari. Mereka bekerja sejak pukul 11.00 sampai 17.00. "Banyak kehidupan warga yang berubah, terutama pengumpul sampah ketika ada TPSA di Bangsring," jelasnya.
Kompensasi berupa sembako juga rutin diberikan selama tiga bulan sekali bagi masyarakat yang tinggal di sekitar TPSA. Sayangnya, TPSA Bangsring yang baru beroperasi sejak September telanjur mendapat penolakan warga sekitar. DLH akhirnya tak sempat mencairkan kompensasi tersebut. "Sembako di Bangsring belum kita bagikan karena belum tiga bulan. Sebenarnya TPSA juga mempengaruhi peningkatan ekonomi, tapi warga menolaknya,’’ sesal Dwi. (fre/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud