Saat hujan lebat terjadi, tak hanya Desa Jelun yang mengalami luapan air. BPBD mencatat ada lima titik di Banyuwangi yang mengalami kejadian serupa saat hujan lebat berlangsung. Rumah roboh di Tegalsari, luapan air di Kelurahan Tukangkayu, Desa Wadung, Pesanggaran, dan Jelun. "Semua disebabkan sampah yang menyumbat aliran sungai,’’ kata Mujito.
Hujan lebat yang terjadi Sabtu kemarin, kata Mujito, merupakan penanda jika Banyuwangi sudah mendekati akhir musim kemarau. Hujan lebat kemungkinan akan terus terjadi dalam beberapa hari ke depan. Untuk menghindari masalah luapan air yang bisa terjadi sewaktu-waktu, Mujito meminta masyarakat untuk menjaga sungai dari sampah.
Intensitas hujan yang tinggi dengan durasi panjang berpotensi meningkatkan debit air sungai. Kondisi ini mengakibatkan air sungai meluap saat tersumbat. "Kita mengingatkan warga yang tinggal di sekitar aliran sungai untuk ikut membersihkan saluran air. Jadi sama-sama mengantisipasi," imbuhnya.
Sementara itu, dalam survei BPBD selama beberapa hari terakhir, ancaman kekeringan di Banyuwangi tahun ini tampaknya bisa terkendali. Empat kecamatan langganan kekeringan, yaitu Wongsorejo, Kalipuro, Bangorejo dan Tegaldlimo dipastikan tidak mengalami kekeringan. Musim kemarau yang terjadi tahun ini masih disertai hujan atau disebut kemarau basah. "Kalau kekeringan kita lihat sudah teratasi. Mungkin hanya di Tegaldlimo yang butuh air bersih karena banyak air tanah yang agak asin karena terkena air laut. Selanjutnya beberapa lahan pertanian di Wongsorejo. Secara umum kebutuhan air bersih kita aman," tandasnya. (fre/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud