Miswiyanto, salah satu warga Desa Sidowangi mengatakan, tidak semua warga mampu membuat sumur bor. Untuk mengebor sumur, warga harus menggali tanah dengan kedalaman hingga ratusan meter. ”Hanya beberapa orang saja yang mampu membuat sumur bor pribadi. Kalau tidak punya uang Rp 100 juta lebih, jangan mimpi menggali sumur,” ucap Miswiyanto yang dipercaya menjaga sumur bor milik Nur Hadi, warga Wongsorejo.
Sumur tersebut sebenarnya dibuat untuk kepentingan pribadi. Sumur itu digunakan untuk mengairi lahan pertanian seluas 7 hektare. Karena dianggap menguntungkan, pemilik sumur menjadikannya lahan bisnis. Setiap petani yang ingin mendapatkan air dari sumur bor harus membayar Rp 40 ribu per jam.
”Dalam satu jam, petani harus bayar Rp 40 ribu. Sedangkan untuk mengairi sawah dengan luas 1 hektare butuh waktu 10 jam lebih. Kalau warga punya lahan satu hektare harus bayar Rp 400 ribu,” imbuh Miswi, panggilan akrab Miswiyanto.
Miswi menyebut, sumur itu sudah berdiri selama tujuh tahun. Berkat sumur tersebut, banyak petani yang diuntungkan. Bagaimana tidak, petani yang dulu hanya panen satu tahun satu kali, sekarang bisa panen tiga kali. ”Dulu mau bercocok tanam harus menunggu musim hujan. Sekarang tergantung petaninya saja. Kalau mau bayar bisa panen tiga kali. Apalagi, bisa nabung dan memiliki sumur bor sendiri,” jelasnya.
Sumur di desa tersebut sebenarnya banyak, hanya sumbernya kecil-kecil. Penggalian dilakukan secara manual. Berbeda dengan sumur bor yang proses penggaliaannya menggunakan mesin bor. ”Dulu penggalian sumur masih pakai cangkul. Yang penting bisa keluar air dan cukup untuk diminum,” tambah Miswi.
Dia mencontohkan, ada salah satu warga di Desa Sidowangi yang menggali sumur dengan cara manual. Waktunya cukup lama hingga satu tahun. Itu pun tidak bisa keluar air. ”Pakai cara manual untung-untungan. Jika beruntung, bisa keluar air. Kalau lagi apes, kadang tidak keluar air. Punya saya saja dibangun puluhan tahun, sumber airnya tetap kecil,” pungkas Miswi sembari menunjukkan sumur kuno di depan rumahnya. (hum/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud