Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Terima Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur

Syaifuddin Mahmud • Jumat, 16 September 2022 | 23:32 WIB
Hasnan Singodimayan semasa hidup. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
Hasnan Singodimayan semasa hidup. (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
NAMA Hasnan Singodimayan tak asing bagi pencinta sastra di Indonesia, khususnya di Banyuwangi. Hasnan telah menelurkan sederet karya yang menjadi rujukan dan kajian bagi para akademisi. Segudang prestasi pun diraih hingga menempatkannya menjadi sastrawan terkemuka di negeri ini.

Meski usianya hampir satu abad, budayawan kelahiran Banyuwangi 17 Oktober 1931 ini tak pernah meninggalkan aktivitas yang dicintainya, yakni membaca buku. Dari pemikiran Hasnan, lahir berbagai karya sastra mendunia yang mengangkat topik tentang Banyuwangi.

Jelang perayaan bertambahnya usianya ke-89 pada 17 Oktober 2020 lalu, bapak lima orang anak ini menjadi salah satu penerima Anugerah Sutasoma Balai Bahasa Jawa Timur 2020. Sebuah penghargaan cukup bergengsi dalam pengembangan sastra di Jawa Timur. Piagam tersebut terpampang tepat di dinding ruang tamu rumahnya, menghadap ke arah kursi tamu. Piagam itu dibingkai dalam pigura warna keemasan. Terlihat masih baru dan cukup mengilap.

Anugerah Sutasoma memang bukan penghargaan atau pengakuan pertama yang diterima ayahanda Bonang Prasunan ini. Di ruang tamu yang dipenuhi tumpukan buku dan beberapa perkakas lawas, setidaknya terpampang beberapa plakat penghargaan.

Salah satu dan yang paling dia banggakan, sebuah tanda anugerah kebudayaan Maestro Seni Tradisi 2017. Penghargaan itu dipasang berjejer dengan penghargaan lainnya.

Karir Hasnan di dunia kepenulisan, khususnya yang mengangkat unsur Banyuwangi memang sudah berlangsung sejak lama. Tidak sekadar menulis, Hasnan juga rajin berburu dan mengumpulkan informasi dari kliping-kliping surat kabar dan majalah. Kebiasaan inilah yang menyebabkannya kaya akan perbendaharaan sosial dan budaya Banyuwangi.

Selain itu, kekayaan pustaka telah menjadikan karya Hasnan cukup kuat menyajikan Banyuwangi dari sudut pandang berbeda. Tradisi ini pula yang dia tularkan kepada para penulis muda Banyuwangi. Dalam setiap prosesnya, Hasnan juga memadukan pengalaman dan catatan yang terserak dalam arsip-arsip catatan sejarah.

Hasnan mulai mengalami sakit sejak 1 November 2020 lalu dan didiagnosis menderita penyakit lambung. Sejak itu pula, ayahanda Capung Prihatin ini ogah diopname, dan justru memilih istirahat di rumah. ”Bapak ini bilang, jika dia ini tidak sakit hanya sudah tua,” tandas Bonang Prasunan. (ddy/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#hasnan singodimayan #obituari #kisah hidup #In Memoriam