Wawan menyebutkan, selama sembilan bulan sudah terjadi 10 kebakaran. Penyebab kebakaran didominasi korsleting listrik. Warga lebih memilih kabel listrik dengan harga murah sehingga rawan memicu kebakaran. “Kebakaran akibat korsleting listrik bisa dikatakan 70 persen sampai 80 persen. Yang keseringan adalah stop kontak,” ungkap Wawan.
Banyak warga takut mengeluarkan uang Rp 1 juta untuk memakai kabel yang sesuai standar. Mereka lebih memilih kabel listrik dengan harga murah sehingga gampang rusak. Otomatis, ketika kabel itu mudah putus jika disambung ulang. “Saya sarankan seluruh masayarakat, utamanya perkantoran, memperbaiki aliran listrik menggunakan kabel yang bagus. Pemasangan kalau bisa memakai tenaga ahli listrik,” saran Wawan.
Kata dia, tugas damkar dipastikan cepat. Selain siap siaga 24 jam, Damkar cepat meluncur ke lokasi setelah menerima kabar ada insiden kebakaran. Setiap hari, sarana prasarana Damkar sudah siap siaga. “Begitu dapat informasi kebakaran, tidak lebih dari empat menit kami langsung bergerak. Yang jadi kendala ketika jaraknya jauh dan lokasi kebakaran berada di daerah terpencil. Dalam kondisi seperti itu truk damkar sulit memasuki arena kebakaran,” tegas Wawan.
Menurut dia, deteksi dini terjadinya kebakaran sangat penting untuk diketahui. Masyarakat diimbau cepat memberikan informasi ketika terjadi kebakaran. Selain itu, kata Wawan, pengendara lain harus menyingkir serta memberikan jalan ketika mobil damkar melakukan penyelamatan. “Kami imbau pengendara cepat menghindar. Tidak jarang keterlambatan damkar diakibatkan jalan yang macet,” pungkas Yatmadi. (hum/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud