Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Sempat Meledak, Proses Pemotongan Paus Butuh 4 Hari, Giginya Jadi Incaran

Syaifuddin Mahmud • Jumat, 5 Agustus 2022 | 14:03 WIB
EVAKUASI BELUM TUNTAS: Meledaknya bangkai ikan paus berbobot 28 ton mengakibatkan warna air laut di Pantai Lestari, Kelurahan Bulusan, berubah menjadi merah darah, Rabu (3/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
EVAKUASI BELUM TUNTAS: Meledaknya bangkai ikan paus berbobot 28 ton mengakibatkan warna air laut di Pantai Lestari, Kelurahan Bulusan, berubah menjadi merah darah, Rabu (3/8). (Ramada Kusuma/Radar Banyuwangi)
KALIPURO, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Bangkai ikan paus sperma (Physeter macrocephalus) masih mengapung di Pantai Lestari, Kelurahan Bulusan. Meski sudah lebih dari dua hari mati, tubuh paus berbobot 28 ton itu tak mudah untuk dipindahkan.

Sejak Selasa sore (2/8), petugas dan relawan dari BPBD Banyuwangi berupaya melakukan evakuasi bangkai dengan memotong bagian tubuh paus. Setelah tim dokter hewan dari SIKIA Unair Banyuwangi mengambil sampel, relawan BPBD langsung melakukan proses pemotongan. Bagian rahang bawah yang dianggap menjadi salah satu bagian yang cukup penting menjadi sasaran awal.

Sekitar pukul 18.00, rahang bawah paus berhasil dipotong, kemudian dikuburkan di lubang yang sudah disediakan di tepi pantai tak jauh dari lokasi paus terdampar. ”Kita sudah ambil sampel jaringan kulit bagian luar sampai bagian dagingnya. Ikan paus ada lapisan lemaknya. Untuk bagian lain seperti organ dalam tidak kita ambil karena sudah lebih dari 24 jam dan sudah terjadi pembusukan,” kata dokter hewan SIKIA Unair drh Aditya Yudhana.

Adit menambahkan, pemotongan tubuh paus menjadi satu-satunya solusi yang memungkinkan karena tak bisa dibawa secara utuh. Tubuh paus dipotong menjadi beberapa bagian agar mudah untuk dipindahkan. ”Sampel yang diambil akan kita uji DNA. Tujuannya untuk mengetahui asal-usul paus dan uji akumulasi polutan organik untuk mengetahui berbagai zat polutan yang berpotensi menimbulkan masalah paus. Hasilnya, kemungkinan 3–4 bulan lagi. Kita akan koordinasikan ragam parameter pengujiannya dengan BPSPL, BKSDA, dan BRIN,” terangnya.

Proses pemotongan bangkai paus kemarin terus dilakukan hingga malam hari. Sebelum pemotongan, tubuh paus sempat meledak akibat gas yang terjadi karena pembusukan. Ususnya terburai keluar. Disusul dengan aroma busuk yang menguar ke sekitar pantai. Bagian itulah yang langsung dibersihkan oleh relawan BPBD.

Secara manual lima orang relawan BPBD memindahkan usus tersebut ke jangkauan alat ekskavator yang sudah siap di tepi pantai. Usus kemudian dimasukkan ke dalam lubang yang sudah disediakan. Selanjutnya, lima relawan BPBD kembali memotong bagian perut paus.

Meski ombak sudah mulai surut, kelima orang itu tampak kerepotan memotong daging paus menggunakan gergaji mesin. Salah satu relawan BPBD, Ahmad Tauli mengatakan, melihat kondisi alat dan besarnya ikan paus, dia memperkirakan paling cepat butuh waktu tiga hari sampai empat hari untuk mengevakuasi.

Apalagi, proses evakuasi sangat tergantung dengan pasang surutnya air laut. ”Sulit mengoperasikan gergaji mesin di air. Kalau dagingnya sebenarnya tidak terlalu keras. Kita harus menyesuaikan dengan ombak, alatnya jadi sering trouble,” ungkap pria asal Kenjo itu.

Kepala Dinas Perikanan Banyuwangi Rahman Alief Kartiono mengatakan, semakin membusuknya bangkai paus sebenarnya cukup menghawatirkan. Terutama untuk kesehatan warga sekitar. Alief berharap proses evakuasi bisa dilakukan secepat mungkin.

”Kita tidak tahu penyakit apa yang dibawa hewan ini. Petugas yang melakukan evakuasi tetap harus menggunakan pakaian hazmat agar tidak terkena dampak dari bangkai. Rencananya kita tetap akan pertahankan susunan tulangnya. Pemotongan dilakukan ke dagingnya saja,” imbuh Alief.

Aktivitas penjagalan paus menjadi tontonan warga. Mereka sengaja datang ke lokasi untuk menyaksikan mamalia raksasa tersebut. Agar tidak mengganggu jalannya evakuasi, petugas Satpolairud Banyuwangi memasang police line di sisi kanan dan kiri kuburan paus.

Kasatpolairud Banyuwangi Kompol Mashyur Ade menambahkan, proses evakuasi menyesuaikan dengan kondisi di lapangan. Jika memungkinkan, bagian tubuh yang tersisa akan dikubur di tanah milik ASDP yang sejak awal sudah disiapkan untuk bangkai paus. ”Kita lihat dulu bagaimana nanti. Ini coba dipotong-potong dulu,” imbuhnya.

Sementara itu, kesulitan petugas mengevakuasi bangkai paus bertambah dengan upaya menjaga gigi paus. Rupanya, bagian tubuh hewan raksasa yang dianggap memiliki nilai ekonomis tinggi, menjadi incaran beberapa orang.

Slamet Fameru, 55, salah seorang relawan BPBD mengatakan, dirinya bersama anggota Lanal, semalaman menjaga gundukan pasir yang menjadi tempat ditanamnya rahang bawah paus.

Slamet harus berpatroli mengitari area Pantai Lestari untuk memastikan tidak ada orang yang mendekati kuburan paus. ”Saya sendiri tidak tahu berapa nilainya. Ada beberapa orang yang tanya, bahkan ada yang menawar Rp 1 juta per gigi. Makanya kita jaga supaya tidak diambil. Apalagi, giginya yang berjumlah 48 akan digunakan sebagai sarana edukasi perikanan,” tandas Slamet. (fre/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#Paus Sperma #selat bali #Pantai Bulusan #Hiu Paus #paus terdampar