Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

478 Sapi Terpapar , Warga Ramai-Ramai Jual Hewan Ternak

Syaifuddin Mahmud • Rabu, 15 Juni 2022 | 20:30 WIB
Grafus: Reza Fairuz/Radar Banyuwangi
Grafus: Reza Fairuz/Radar Banyuwangi
RADAR BANYUWANGI – Penyebaran virus penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang ternak sapi semakin mengkhawatirkan. Dinas Pertanian dan Pangan mencatat ada 478 ekor sapi terkonfirmasi PMK.

Penyebaran PMK sudah merambah 25 kecamatan di Bumi Blambangan. Kasus PMK paling banyak ditemukan di Kecamatan Songgon yang mencapai 45 ekor disusul Kecamatan Glenmore sebanyak 32 ekor. Selanjutnya Cluring 29 ekor, Tegaldlimo dan Muncar 28 ekor sapi.

Kabar gembiranya, 13 ekor sapi yang terkonfirmasi PMK dinyatakan sembuh. Kondisinya terus membaik dan sudah mau makan dan mengeluarkan air liur. Luka pada mulut juga sudah mengering. ”Angka kesembuhan masih cukup kecil, yaitu 3,62 persen dari jumlah keseluruhan sapi yang terpapar PMK,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi drh Nanang Sugiarto.

Nanang tidak menampik penyebaran PMK semakin mengkhawatirkan. Tingkat penyebarannya sudah 100 persen di seluruh kecamatan. Namun, jika dihitung penyebarannya dengan jumlah populasi ternak hanya 45 persen. ”Jumlah populasi sapi di Banyuwangi mencapai 144.117 ekor, jika diakumulasi dengan jumlah sapi yang terpapar masih terbilang cukup terkendali,” kata Nanang.

Ada beberapa kendala dalam menangani kasus PMK. Saat ini, pemkab hanya memiliki satu unit laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner. Ditambah lagi, banyak masyarakat mengalami panic selling sehingga menjual ternaknya dengan harga cukup murah. ”Kendala lainnya, yaitu stok obat-obatan dan disinfektan cukup terbatas sehingga tidak mampu menjangkau ke seluruh kecamatan,” terang Nanang.

Pihaknya kerap melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak panik dan tetap menjaga kebersihan kandang ternak. ”Sebagian peternak menjual ternaknya lebih cepat. Mereka takut jika ternaknya terkonfimasi PMK. Ternak yang dijual saat terkonfirmasi PMK tentunya akan menyebarkan virus PMK ke ternak lainnya,” ungkap Nanang.

Sujiono, salah satu peternak kambing mengaku panik dengan PMK, meski ternak yang terkonfirmasi PMK didominasi sapi. Namun, dia memilih menjual delapan ekor kambingnya sebelum terpapar PMK. ”Saya tidak ingin rugi jika ternak terkena PMK kemudian mati,” ujar lelaki 48 tahun tersebut.

Sujiono mengatakan, wabah PMK sudah merambah ke seluruh hewan. Meski kambing tidak mengalami gejala yang menonjol seperti sapi, tapi tidak menutup kemungkinan bisa kena PMK. ”Lebih baik dijual saja daripada harus menambah biaya untuk pengobatan ternak,” ungkap warga Desa/Kecamatan Bangorejo tersebut.

Sujiono mengaku delapan ekor kambingnya laku senilai Rp 20 juta. Jika dirata-rata, satu ekor kambing laku Rp 3 juta dengan ukuran campuran. ”Saya jual borongan, ukuran besar atau kecil dihitung sama,” pungkasnya. (rio/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud
#Virus hewan #penyakit mulut dan kuku #sapi #pmk #hewan ternak #penyakit sapi