Hewan ternak tersebut mati dalam kurun waktu dua pekan terakhir tanpa menunjukkan gejala apapun. ”Tidak ada gejala sama sekali, tiba-tiba mati. Padahal makanan yang diberikan juga normal seperti biasa,” ujar Kusayik.
Menurut dia, kematian kambing tersebut selalu mengeluarkan busa di mulutnya. Setiap hari ada satu ekor hingga dua ekor yang mengalami kematian. ”Saat mati mengeluarkan busa, kambing seketika lemas dan ditemukan sudah tidak bisa diselamatkan,” katanya.
Kusayik menduka kambingnya terserang Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). “Dugaan awal dikarenakan PMK, karena ternak milik tetangganya juga divonis terkonfirmasi PMK oleh petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi,” terangnya.
Kabid Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi drh Nanang Sugiarto menjelaskan, matinya kambing secara mendadak tersebut bukan karena PMK. ”Perlu diluruskan, kejadian tersebut sudah kami klarifikasi di lapangan dengan tim di sana. Hasil surveilans kematian karena punya penyakit kembung,” katanya.
Kembung jelas Nanang, biasanya disebut juga bloat pada ternak. Hal ini memicu penyebab utama kematian mendadak pada ternak. ”Penyebabnya bisa macam-macam. Seperti makanan, kondisi cuaca dan sebagainya,” paparnya.
Nanang meminta masyarakat peternak tidak resah adanya PMK yang sudah masuk ke Banyuwangi. Menurut Nanang, PMK masih bisa disembuhkan. Caranya dengan menjaga pola kebersihan kandang dan antisioasi dini mengetahui ada dan tidaknya penyakit ternak. ”Kita memang harus waspada terkait penyebaran PMK, tapi bukan berarti untuk menjustifikasi bahwa semua kejadian diakibatkan oleh PMK,” tegasnya.(rio/aif) Editor : Syaifuddin Mahmud