Bisnis yang sangat menjanjikan itu menjadi peluang bagus bagi para petani tanaman kelapa. Makanya, pemilik pohon kelapa rela menjual janurnya. Seperti diungkapkan salah satu pengepul janur asal Desa Segobang, Licin, Banyuwangi, Mahmud, 52.
Bisnis yang dilakoninya sejak tahun 1990 lalu berhasil membuka lapangan kerja. ”Sejak tahun 1990 saya sudah menekuni pekerjaan sebagai pengepul janur sekaligus petani kelapa. Setiap pohon biasanya dapat keuntungan bersih sebesar Rp 7 ribu,” kata Mahmud.
Janur-janur tersebut lantas dikirim ke Bali. Sekali pengiriman bisa mengangkut 2 ribu ikat janur. Setiap ikat berisi sepuluh lembar. Di Bali satu ikat janur dibanderol Rp 20 ribu. ”Jika dihitung secara matematika, Rp 20 ribu dikalikan 2 ribu ikat. Sehingga omzetnya bisa mencapai Rp 40 juta sekali berangkat. Itu belum dipotong pembayaran atau modal yang dikeluarkan,” katanya.
Mahmud mengaku setiap hari bisa mengirim janur ke Bali, tapi jumlahnya tidak terlalu banyak. Dia mengakui saat ini kesulitan mencari janur di sejumlah tempat. ”Saya kadang kesulitan mencari petani pohon kelapa yang mau menjual janur,” ungkapnya.
Seorang pemilik pohon kelapa di Desa Segobang, Mahdi, 49, mengatakan, pohon kelapa miliknya banyak yang rusak. Ketika daunnya utuh, sebatang pohon kelapa bisa menghasilkan banyak buah. Setiap kali panen bisa menghasilkan 30 buah kelapa. Normalnya, buah kelapa bisa dipanen setiap tiga bulan. ”Sekarang penghasilan pohon kelapa sudah menurun akibat pohonnya rusak. Janurnya banyak diambil,” ujarnya.
Mahdi menambahkan, pohon kelapa yang rusak itu sulit menghasilkan panen yang optimal. Buah kelapa yang dihasilkan terkadang sangat buruk. Bahkan, buahnya terkadang busuk. Kalau pembabatan janur dilakukan secara ngawur, pohon kelapa bisa cepat mati. ”Mau gimana lagi, perekonomian yang sulit membuat para petani terpaksa menjual janur untuk mendapatkan uang,” bebernya. (rio/aif/c1) Editor : Syaifuddin Mahmud