BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi - Suasana Pendapa Sabha Swagata Blambangan terasa begitu syahdu Selasa sore (19/4). Lantunan ayat-ayat suci Alquran membahana dari aula utama rumah dinas bupati tersebut. Maklum, kala itu pemkab tengah menggelar Festival Nuzulul Quran. Berbagai kegiatan digeber dalam rangkaian festival tersebut. Salah satunya khataman Quran.
Tidak tanggung-tanggung, dalam sehari ratusan hafiz dan hafizah mengkhatamkan kitab suci umat Islam tersebut sebanyak 3 ribu kali. Bukan hanya di pendapa, khataman juga digeber di semua kantor pemerintah, mulai kantor organisasi perangkat daerah (OPD), kantor kelurahan/desa, kecamatan, pusat kesehatan masyarakat (puskesmas), masjid, ponpes, dan sekolah jenjang SD hingga sekolah menengah atas (SMA)/sederajat se-Banyuwangi. Para peserta secara bersama-sama melantunkan ayat-ayat suci Alquran mulai pukul 08.00 hingga menjelang Magrib.
Sebagai puncak acara, pemkab menggeber doa bersama yang dipusatkan di Pendapa Sabha Swagatha Blambangan. Doa bersama dipimpin KH Toha Munthaha dari Glenmore.
Di antara ratusan orang yang hadir, ada satu sosok yang cukup menyita perhatian. Dia adalah Ahmad Nadhif. Maklum, belum lama ini wajah bocah tersebut kerap mondar-mandir di jagat media sosial. Banyak orang yang mengelu-elukannya.
Maklum saja, Nadhif merupakan salah satu peserta lomba tahfiz yang digelar salah satu televisi swasta nasional. Hebatnya, meski usianya masih belia, dia sudah hafal 30 juz Alquran. Dia hafal kitab suci umat yang menjadi pedoman hidup umat Islam itu sejak usia tujuh tahun dua bulan.
Ya, meski memiliki keterbatasan fisik dan mengalami gangguan pada suaranya, namun semangat Nadhif untuk menghafal dan melantunkan kalam Ilahi tak surut. Hebatnya lagi, dia mampu menghafal Alquran ”hanya” dalam rentang tak genap satu tahun.
Usai acara, Nadhif pun berkesempatan berbincang langsung dengan Bupati Ipuk Fiestiandani. Keduanya tampak ngobrol dengan gayeng. Bahkan, Ipuk sempat memberikan pelukan lembut pada anak kelahiran 1 April 2014. ”Adik Nadhif ini menjadi motivasi dan inspirasi bagi kita semua. Bahwa Allah SWT selalu memberikan yang terbaik bagi kita dalam situasi dan kondisi apa pun,” ujar Ipuk.
Sejurus kemudian, bocah kelas 2 Madrasah Ibtidaiyah (MI) Tarbiyatus Syibyan Tegaldlimo tersebut, meminta Ipuk membuka masker yang dikenakan. ”Bisa dibuka maskernya, Bu?” pinta Nadhif.
Ipuk yang disiplin mengenakan masker pun menuruti permintaan Nadhif. ”Ingin tahu wajahnya bunda, ya?,” timpalnya. ”Oke, karena sudah tak banyak orang, saya buka,” imbuhnya.
Nadhif pun semringah. Rasa penasarannya untuk melihat langsung wajah pemimpin Pemkab Banyuwangi itu terwujud. ”Saya senang bisa di sini (Pendapa Sabha Swagata Blambangan),” ungkapnya polos.
Sementara itu, ayah Nadhif, yakni Kiai Muhammad Thohir menceritakan bahwa anaknya tersebut mulai menghafalkan Alquran sejak berusia 6,5 tahun. Hampir setiap hari bisa menghafalkan beberapa lembar ayat-ayat suci Alquran. ”Kami menerapkan pola hafalan secara klasikal. Membacanya bersama-sama dan kemudian setoran satu per satu,” ungkap Kiai Thohir yang sekaligus merupakan pengasuh Pesantren Tahfidz Sunan Kalijogo, Tegaldlimo itu.
Thohir mengaku cukup memberikan kelonggaran pada putranya tersebut. Dia nyaris tak memaksakan Nadhif untuk hafalan Alquran. Seperti halnya tatkala waktunya bermain, kedua orang tuanya mempersilakan Nadhif itu untuk bermain. ”Tapi, karena lingkungannya di pondok, banyak teman-teman seusianya yang menghafalkan Alquran, jadi ya tetap kondusif untuk hafalan,” ungkap pria lulusan Pesantren Al-Falah, Ploso, Kediri tersebut.
Di pesantren yang dia asuh tersebut, terang Thohir, ada sekitar 50 santri anak-anak yang tinggal untuk menghafal Alquran. Selain itu, tak kurang dari 150 santri lainnya yang hanya belajar dan menghafal Alquran, tapi tinggal di luar pondok. ”Terciptanya lingkungan inilah yang saya kira berpengaruh dalam mempercepat hafalan,” ujar pria yang mulai merintis pesantren sejak empat tahun silam itu.
Saat ini, di pesantren tahfiz tersebut tak kurang dari 7 santri yang telah hafal 30 juz. Rata-rata mereka masih duduk di bangku kelas 5 hingga 6 sekolah dasar (SD)/sederajat. ”Pada tahun kemarin, kita mulai merintis boarding school. Sehingga nantinya bisa terintegrasi antara program tahfiz dan pendidikan formal,” pungkas Thohir.
Editor : Rahman Bayu Saksono