BLIMBINGSARI – Setelah menempati pos barunya sebagai Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol), Mohammad Lutfi langsung tancap gas. Mantan Camat Banyuwangi itu bertekad menjadikan Desa Patoman, Anak-anak Desa Patoman, Kecamatan Blimbingsari, Banyuwangi, sebagai destinasi wisata kebangsaan di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.
Desa Patoman memiliki ragam budaya serta adat istiadat penduduk yang berasal dari suku Bali, Oseng, Jawa, dan Madura. Selama desa ini berdiri sejak tahun 2002, tidak pernah terjadi gesekan antarmasyarakat. Hubungan sosial antar warga tergolong harmonis dan rukun meski di dalamnya terdapat perbedaan keyakinan dan adat istiadat. ”Toleransi kebangsaan dan kemanusiaan adalah prinsip kokoh yang dipegang teguh masyarakat hingga saat ini,” ungkap Lutfi.
Menurut dia, kerukunan warga Desa Patoman bisa dilihat dalam berbagai kegiatan masyarakat. Biasanya saat penganut Islam melaksanakan kegiatan keagamaan, pecalang umat Hindu menjadi petugas keamanan. Begitu sebaliknya saat umat Hindu melaksanakan Hari Raya Nyepi, warga muslim melalui Satgas Banser ikut membantu melakukan pengamanan.
Kehidupan saling bantu-membantu lazim dilakukan oleh setiap warga tanpa memandang perbedaan. Keanekaragaman seni, budaya, serta tradisi di Desa Patoman ini merupakan sebuah potensi besar yang harus dijaga kelestariannya.
”Multikultur masyarakat Desa Patoman harus dikelola untuk menghindari disintegrasi. Salah satu solusi alternatif dalam mengelola multikultur adalah mengemas menjadi daya tarik wisata,” jelas Lutfi.
Sejak menjabat sebagai Sekretaris Bakesbapol Banyuwangi, Lutfi mengaku tidak terlalu kesulitan dalam melakukan adaptasi. Rata-rata pegawai Bakesbangpol bukan orang baru. Mereka sudah saling kenal dan bertemu sebelumnya.
Pada tahun 2022 nanti, pihaknya sudah melakukan pemetaan program kerja. Salah satunya menjadikan Desa Patoman sebagai Desa Kebangsaan. Diharapkan desa tersebut bisa menjadi tujuan wisata unggulan di Banyuwangi. Apalagi setiap hari banyak tamu dari luar daerah yang datang untuk melakukan studi banding.
Untuk sementara ini, imbuh Lutfi, tamu Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dari berbagai daerah masih diterima di Lounge Pelayanan Publik Pemkab Banyuwangi. Belum ada tempat khusus yang mejadi jujugan FKUB dari luar daerah. ”Kami coba ada sekretariat FKUB, sehingga jika ada kunjungan dari luar daerah bisa langsung ditempatkan di sekretariat,” tandasnya.
Editor : Ali Sodiqin