LICIN – Beberapa orang pemilik pohon durian di Dusun Srampon, Desa Segobang, Kecamatan Licin, Banyuwangi, waspada selama sepekan terakhir ini. Mereka berjaga-jaga tak jauh dari pohon durian miliknya.
Peningkatan kewaspadaan ini gara-gara serangan kera. Gerombolan satwa primata itu kerap memetik buah durian dari pepohonan milik petani di Dusun Srampon dan sekitarnya.
Dari informasi yang diperoleh wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi, gerombolan kera itu kerap mendatangi pohon-pohon durian yang buahnya sudah hampir matang. Bahkan, mereka juga menggasak buah durian yang sudah matang.
Biasanya, buah berduri itu dipetik dan dipindahkan dari satu kera ke kera lainnya. Kemudian buah dilempar ke bawah. Setelah itu, kera mulai mengambil buah durian yang sudah pecah dan memakan isinya. ”Buah durian diambil dari pohon, jadi dipelintir kemudian dipindahkan antar kera, lalu dilempar,” jelas Haeromi, 37, seorang pemilik pohon durian di Desa Segobang.
Akibat ulah gerombolan kera itu, Haeromi bersama para pemilik pohon durian memilih berjaga-jaga di kebun sejak beberapa hari lalu. Ada yang membawa petasan atau senapan angin bersuara lantang. Ini untuk menakuti-nakuti kera agar tidak memetik buah durian.
Rata-rata pemilik pohon berjaga sejak selepas subuh hingga menjelang magrib. Namun, kera-kera itu sepertinya paham jadwal jaga pemilik pohon. Mereka kerap datang tak lama setelah pemilik pohon pulang, yaitu menjelang magrib. ”Jumlahnya ada lebih 20 ekor. Harus ditakut-takuti supaya lari. Ada warga yang bawa meriam karbit, buat mengusir mereka,” jelasnya.
Kerugian akibat serangan kera itu pun menurut Haeromi cukup banyak. Dari satu pohon yang biasanya menghasilkan 20 butir sampai 60 butir buah durian, kali ini menyusut hingga separonya. Apalagi, kera-kera itu tak hanya memetik buah yang matang. Mereka juga mengambil sebagian buah yang masih hijau. ”Saya punya 12 pohon yang sedang berbuah. Biasanya satu pohon bisa ditebas sampai Rp 6 juta untuk satu musim panen. Ini ada yang habis semua,” tandasnya.
Editor : Ali Sodiqin