”Banyuwangi ngangeni”. Kalimat itu terlontar dari Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Tepatnya saat sang Gubernur melawat ke Bumi Blambangan untuk kali ketiga ”hanya” dalam kurun dua pekan terakhir.
Gubernur perempuan itu datang ke kabupaten berjuluk The Sunrise of Java untuk mendampingi Wakil Presiden (Wapres) Ma’ruf Amin tanggal 20 Oktober 2021 lalu. Enam hari berselang, yakni Selasa (26/10), Khofifah kembali mengunjungi Banyuwangi. Kali ini, dia datang untuk meresmikan dermaga movable bridge (MB) IV di Pelabuhan Ketapang.
Belum berhenti sampai di situ, Khofifah memperpanjang catatan kunjungan ke kabupaten the Sunrise of Java pada Jumat (29/10) hingga kemarin (30/10). Bahkan kali ini, dia juga mengajak Wakil Gubernur (Wagub) Emil Elestianto Dardak dan jajaran Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim serta 38 bupati dan wali kota se-provinsi paling timur Pulau Jawa.
Dalam lawatan ketiga ke Banyuwangi tersebut, Khofifah menjalani seabrek kegiatan. Mulai penanaman mangrove di kawasan Teluk Pangpang di perbatasan Kecamatan Muncar dan Tegaldlimo, meninjau vaksinasi bertajuk ”Jelajah Kampung dan Daerah Pesisir” di Kecamatan Muncar, serta menyerahkan penghargaan kepada kabupaten dan kota yang berhasil meraih opini wajar pengecualian atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKDP) Tahun 2020 dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI.
Bukan itu saja, Gubernur Khofifah juga ”memilih” Banyuwangi sebagai lokasi acara puncak Hari Aksara Internasional Tahun 2021 tingkat Jatim. Acara yang digeber di Hotel El Royale Banyuwangi kemarin (30/10) ini juga dihadiri para bupati dan wali kota se-Jatim.
Tentu bukan tanpa alasan Gubernur Khofifah memilih Banyuwangi sebagai lokasi dua ajang akbar tingkat Jatim. Salah satunya adalah agar antara satu daerah dengan daerah yang lain saling mengenal. ”Di Jatim itu kan ada Banyuwangi, Pacitan, Sumenep, Tuban, dan lain-lain,” ujarnya.
Bukan itu saja, Khofifah mengaku ada banyak hal yang memerlukan temu pikiran satu sama lain. Juga temu program yang dijalin tidak dalam forum rapat. Nah, Banyuwangi dipilih lantaran kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini memiliki sejumlah program yang bisa dijadikan role model bagi kabupaten dan kota lain.
Khofifah lantas merujuk pada pelayanan publik di Banyuwangi. Kabupaten yang kini dipimpin Bupati Ipuk Fiestiandani ini memiliki Mal Pelayanan Publik yang mengintegrasikan 233 layanan dari 24 instansi dalam satu atap. Banyuwangi juga memiliki Pasar Pelayanan Publik dan sentra pelayanan publik terpadu di kampung nelayan. ”Seperti yang saya sampaikan, percepatan itu penting. Transparansi layanan juga penting. Transformasi digital juga penting. Di Banyuwangi ini Mal Pelayanan Publik (MPP)-nya sudah banyak. Tidak usah studi banding ke luar negeri. Ada best practice yang sudah dimiliki saudara kita sesama daerah di Jatim,” kata dia.
Bukan itu saja, Gubernur Khofifah mengaku ada satu alasan lain mengapa dirinya tiga kali berkunjung ke Banyuwangi dalam kurun tak sampai sebulan. ”Banyuwangi itu ngangeni (bikin kangen, Red),” pungkasnya.
Editor : Ali Sodiqin