ROGOJAMPI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Sebagian masyarakat Osing memiliki tradisi unik yang dipercaya dapat menangkal bahaya atau tolak bala. Salah satunya yakni dengan membuat pelkudukan atau api unggun di depan rumahnya masing-masing.
Tradisi membuat pelkudukan itu ramai pada malam menjelang pergantian tahun baru Islam atau bulan Suro (kalender Jawa). Hampir setiap malam masyarakat suku Osing membuat api unggun di halaman depan rumahnya. Upaya tersebut diharapkan bisa mengusir pagebluk.
”Beberapa minggu lalu banyak orang sakit dan meninggal, kalau tradisi kakek nenek dulu membuat pelkudukan di depan rumah ini harapannya bisa mengusir pagebluk,” ungkap Samsul, warga Desa Pakistaji, Kecamatan Kabat.
Menurut Samsul, biasanya warga mulai mempersiapkan bahan-bahan pelkudukan seperti kayu bakar, batok, dan sabut kelapa sebelum salat Magrib. Ketika matahari mulai terbenam, warga mulai menyalakan api unggun tersebut. ”Waktunya menunggu matahari terbenam, kadang juga selepas salat Magrib,” katanya.
Pelkudukan itu, kata Samsul, dipercaya dapat menangkal pagebluk atau sebagai tolak bala. Meski tidak disebutkan spesifik, pagebluk yang dimaksud berkaitan dengan makin tingginya kasus penularan Covid-19.
Pagebluk tidak hanya berhubungan dengan penyakit saja, namun juga persoalan ekonomi yang semakin sulit. ”Waktu akhir Juli sampai awal Agustus ganas-ganasnya Covid sampai banyak yang meninggal dunia itu, hampir setiap rumah ada api unggun,” jelas Samsul.
Hal senada juga banyak dilakukan warga di Desa Gitik, Kecamatan Rogojampi. Pelkudukan atau api unggun tersebut menurut tradisi warga zaman dulu dapat menangkal bala atau pagebluk.
Sulaiman, warga Desa Gitik mengaku, setelah api unggun yang dibuat berkobar, kemudian ditaburi dengan garam seraya membaca doa-doa. Usai ditaburi garam, suara api terdengar riuh meletus kecil-kecil. ”Garam ini sebagai tolak bala, tradisi orang tua dulu seperti ini. Saya lakukan sejak sepekan terakhir, semoga dijauhkan dari wabah,” katanya.
Pembuatan api unggun di depan rumah cukup masuk akal. Pasalnya api unggun dibuat saat matahari terbenam, ketika itulah perubahan suhu terjadi. ”Makanya kalau ada api unggun ini suhu tidak terlalu drastis, kalau dingin bisa menghangatkan badan di api unggun sata malam hari,” tandasnya.
Editor : Rahman Bayu Saksono