Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gedung Juang ”Bertransformasi” Jadi Gedung Kesenian Rakyat

Ali Sodiqin • Minggu, 23 Mei 2021 | 21:00 WIB
gedung-juang-bertransformasi-jadi-gedung-kesenian-rakyat
gedung-juang-bertransformasi-jadi-gedung-kesenian-rakyat


RadarBanyuwangi.id – Setelah bertahun-tahun terkesan kumuh dan tak terawat, gedung di sebelah timur Pasar Banyuwangi menjelma bangunan megah dan siap menjadi salah satu ikon baru Bumi Blambangan. Bangunan yang sebelumnya digunakan sebagai Gedung Juang itu bakal dialihfungsikan menjadi Gedung Kesenian Rakyat.



Wartawan Jawa Pos Radar Banyuwangi berkesempatan melihat langsung bangunan yang dibangun dengan skema pembangunan tahun jamak alias multi years tersebut kemarin (21/5). Hasilnya, gedung yang dahulu hanya memiliki satu lantai, itu kini menjadi bangunan tiga lantai dan dilengkapi indoor amphitheatre di lantai paling atas.



Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banyuwangi M. Yanuarto Bramuda mengatakan, setelah direvitalisasi, gedung tersebut sudah diserahterimakan dari pihak Dinas Pekerjaan Umum, Cipta Karya, dan Perumahan Rakyat (PU-CKPR) kepada Disbudpar. ”Gedung ini direvitalisasi agar ke depan lebih bermanfaat untuk orang banyak,” ujar pria yang karib disapa Bram tersebut.



Bram menuturkan, ke depannya lantai satu gedung tersebut akan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan kemasyarakatan serta kegiatan seni dan budaya. Misalnya untuk kegiatan pameran lukisan, fotografi, dan lain sebagainya.



Lantai dua bisa digunakan untuk kegiatan-kegiatan outdoor. Contohnya melukis on the spot, menggambar, dan lain-lain. ”Sedangkan yang paling spesial terletak di lantai tiga. Ada indoor amphitheatre,” kata Bram.



Bram menyebut, ke depan amfiteater itu akan dioptimalkan agar sanggar-sanggar seni se-Banyuwangi dapat menampilkan karya-karyanya di lokasi tersebut. Misalnya menggelar pentas seni tari dan sebagainya. ”Karena selama ini Banyuwangi hanya punya pentas outdoor, yakni di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan. Sedangkan dengan digelar di pentas indoor, pasti akan memberikan pengalaman berbeda kepada penyaji maupun penonton. Karena penampilan mereka akan dipadukan dengan teknologi pencahayaan (lighting) dan lain-lain,” bebernya.



Bram berharap, gedung tersebut sudah bisa dimanfaatkan untuk kegiatan seni-budaya pada rangkaian peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) tahun ini. ”Harapan kami, kegiatan seni-budaya dalam rangka Harjaba itu dapat dilakukan sekaligus sebagai tanda peluncuran Gedung Juang yang beralih menjadi Gedung Kesenian Rakyat ini,” harapnya.



Sementara itu, peluncuran Gedung Kesenian Rakyat nanti bakal dibarengkan dengan peringatan Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) pada 18 Desember 2021. Launching dimeriahkan dengan pameran lukisan yang dimotori para perupa Banyuwangi. Setelah melihat langsung kondisi Gedung Juang, panitia memutuskan menggelar pameran di tempat tersebut. ”Lokasinya bagus, berada di pusat kota. Sangat cocok untuk pameran lukisan,” ujar Imam Maskun, seniman yang menginisiasi pameran lukisan tersebut.



Ketua Dewan Kesenian Blambangan (DKB) Hasan Basri sependapat dengan langkah Disbudpar yang akan menjadikan Gedung Juang tersebut sebagai Gedung Kesenian Rakyat. Jauh hari sebelumnya, kata Hasan Basri, DKB telah membuat kajian tentang gedung tersebut. ”Zaman Belanda, gedung tersebut  untuk pusat atraksi seni. Namanya Societiet De Club. Sangat tepat kalau sekarang pemanfaatannya untuk kesenian,” kata Hasan Basri.



Seperti diberitakan, peringatan Harjaba masih tujuh bulan lagi, tepatnya bulan Desember 2021. Kendati masih lama, ragam kegiatan untuk memeriahkan Harjaba sudah disiapkan jauh hari sebelumnya. Salah satunya adalah persiapan pameran lukisan yang digelar oleh para perupa Bumi Blambangan.



Pameran dengan nama ArtOs yang mengambil tema ”Kembang Langit” bakal digelar selama sepekan. Tempat yang dipilih sedianya di Gedung Kesenian Rakyat (Gedung Juang).



Mengapa pakai nama ArtOs? Imam Maskun menjelaskan, ArtOs kepanjangan dari Art Osing (seni Osing). Pameran nanti menonjolkan kearifan lokal Banyuwangi dengan tema Kembang Langit. ”Dalam pembukaan pameran yang berlangsung secara daring dan tatap muka, panitia berencana mengundang perupa dari luar negeri sekaligus perupa Banyuwangi yang sukses di luar daerah,” ujar Imam yang juga owner Langgar Art tersebut. (sgt/aif/c1)



Editor : Ali Sodiqin
#gedung juang