RadarBanyuwangi.id – Batalnya ritual tari Seblang Olehsari menjadi kekhawatiran tersendiri bagi pawang Seblang Olehsari, Akwan. Pria yang selama ini menjadi mediator antara roh leluhur dengan masyarakat Olehsari tersebut mengatakan jika leluhur tak senang dengan tak digelarnya ritual tersebut.
Akwan menjelaskan, pada rapat awal semua panitia sudah sepakat untuk menggelar tari Seblang Olehsari selama tujuh hari. Kesepakatan itu kemudian menjadi bahan untuk bermediasi dengan roh leluhur yang saat itu masuk ke dalam tubuh salah satu tokoh adat Olehsari.
Sehari jelang pelaksanaan, justru ada perubahan aturan sehingga seblang hanya boleh digelar selama sehari. ”Saya tidak berani mengambil risiko kalau cuma menggelar sehari. Dari dulu mulai mbah saya kecil yang namanya seblang ya tujuh hari,” tegas Akwan.
Pria yang sudah beberapa tahun menjadi pawang seblang itu meyakini akan ada dampak dari tak digelarnya ritual ini. Sesuai keyakinan masyarakat, selama ini seblang digelar sebagai tolak bala. Sebaliknya, akan mendatangkan bala jika tidak digelar.
Akwan mencontohkan beberapa kejadian yang diyakini sempat terjadi pada gelaran seblang sebelumnya. Ada penari seblang yang tidak melanjutkan tariannya. Padahal minimal satu generasi penari harus menari selama tiga kali ritual atau tiga tahun berturut-turut. Karena hanya digelar dua kali, akhirnya seblang tersebut menjadi gila. Hal yang sama menimpa seblang lainnya yang tidak direstui keluarganya untuk menari. Tak lama kemudian seblang tersebut menjadi gila.
Akwan menceritakan ada salah satu kades bernama Hadmari Mangun Pranoto yang sempat tidak menggelar seblang selama setahun. Akibatnya kades tersebut mengalami kelumpuhan setelah dua kakinya tak bisa digerakan. ”H-1 baru dikabari kalau hanya boleh digelar sehari. Beribu maaf saya tidak berani mengambil risiko, ritual ini sudah tidak berjalan. Saya menangis mendengar ini,” kata Akwan.
Ketua Adat Seblang Olehsari Anshori menambahkan, meski tarian seblang tak digelar, namun para tokoh adat sehari sebelumnya sudah melakukan semua ritual inti yang biasanya dilaksanakan. Seperti selamatan di empat penjuru Desa Olehsari dan selamatan di rumah perias dan rumah Buyut Ketut sebagai leluhur masyarakat Olehsari. ”Tanggal 25 Ramadan lalu leluhur sudah masuk melalui Pak Zaini. Waktu itu sudah sepakat mau digelar tujuh hari tapi kemudian ada perubahan izin,” jelasnya.
Anshori mengungkapkan, penari gandrung yang saat ini menjadi seblang yaitu Susi Susanti, 20, masih punya kewajiban menari satu kali lagi. Sesuai dengan tradisi, penari generasi ke-29 itu wajib menyelesaikan tugasnya dengan menari 3 tahun berturut-turut. ”Yang berbicara dengan leluhur Pak Akwan. Karena beliau pawang seblangnya. Semoga leluhur bisa mengerti. Dan tahun depan bisa digelar,” pungkasnya. (fre/aif/c1)
Editor : Ali Sodiqin