Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

BPSPL Teliti Penyebab Paus Orca Masuk Selat Bali

Ali Sodiqin • Selasa, 6 April 2021 | 05:00 WIB
bpspl-teliti-penyebab-paus-orca-masuk-selat-bali
bpspl-teliti-penyebab-paus-orca-masuk-selat-bali


RadarBanyuwangi.id - Terdamparnya paus Orca di pantai Bangsring menjadi salah satu fenomena alam yang patut dicermati. Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar menyatakan kejadian tersebut menjadi perhatian internasional, terutama terkait kondisi perairan di Indonesia.



Munculnya spesies terbesar dari keluarga lumba-lumba ini terlihat di sekitar perairan Pantai dekat Pabrik Semen Bosowa pada hari Kamis (1/4) sore. Beberapa nelayan yang melihat keberadaan mamalia langka itu berusaha mendorong ke laut yang lebih dalam. Jumat siang (2/4) pukul 13.00 nelayan di Pantai Bangsring melaporkan ada  paus serupa terlihat di perairan.



Paus Orca tersebut berada sekitar 1 kilometer dari bibir pantai dan beberapa kali menyemburkan air yang menandakan kondisinya cukup aktif. Pukul 14.00 mamalia dengan ciri khas warna hitam putih itu semakin menepi. Sampai kemudian ditemukan sudah terdampar di tepi pantai sekitar pukul 17.00. "Kami datang pukul 17.00 sudah dalam kondisi mati. Kejadian tersebut kami laporkan kepada pimpinan dan BKSDA untuk mengevakuasi bangkai hewan tersebut," ujar Babinsa Bangsring Serka Nurhadi.



Keesokan harinya, petugas konservasi dan tim peneliti gabungan mulai berdatangan ke lokasi penemuan bangkai paus Orca berkelamin jantan itu. Mulai dari Seksi Konsevasi Wilayah V BKSDA Jawa Timur, Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar dan Kedokteran Hewan Unair Banyuwangi.



Mereka melakukan pengambilan sampel  bangkai paus untuk diteliti penyebab kematiannya. Dokter hewan dari FKH Unair Aditya Yudhana melakukan nekropsi dengan mengambil sampel seperti usus kecil dan usus besar.



Kepala BPSPL Denpasar Permana Yudiarso mengatakan pihaknya masih menunggu hasil kajian dan hasil lab dari dokter hewan Unair. Kajian tersebut untuk memastikan secara pasti  penyebab kematian paus Orca tersebut. Sementara, ada beberapa tanda yang terlihat dari pemeriksaan awal yang dilakukan pada hari Sabtu (3/4) kemarin.



Salah satunya tanda luka di bawah perut  yang menimbulkan pendarahan di usus paus pembunuh tersebut. ”Apakah disebabkan karena faktor alam, sakit atau perbuatan manusia, masih kita teliti,’’ kata Permana.



Selain itu dokter hewan juga sudah mengambil sampel sensor sonar dari tubuh paus untuk memastikan apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak. Umumnya, paus Orca menggunakan gelombang sonar untuk saling berkomunikasi dengan kawan-kawannya,  termasuk memetakan wilayah yang mereka datangi.



Dokter juga melakukan uji parasit untuk mengkaji secara patologi terkait kemungkinan adanya penyakit tertentu yang membuat hewan ini sakit kemudian mati. "Dari dugaan-dugaan itu kita kaji teknisnya. Hasilnya kita laporkan kepada masyarakat. Harapanya kita bisa mengkoreksi kebijakan di lautan setelah menemukan penyebab  kematian paus," jelas Yudiarso.


Editor : Ali Sodiqin
#paus orca #pantai bangsring