Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Helm Dipasangi Pasangi Sensor untuk Pastikan Pemakaian Helm yang Benar

Ali Sodiqin • Jumat, 2 April 2021 | 13:00 WIB
helm-dipasangi-pasangi-sensor-untuk-pastikan-pemakaian-helm-yang-benar
helm-dipasangi-pasangi-sensor-untuk-pastikan-pemakaian-helm-yang-benar


RadarBanyuwangi.id – Selama ini banyak yang memakai helm secara asal saat mengendarai motor. Adinda Dyah  Fitriani, 17, dan Dino Surya Wijaya, 17, taruna kelas XI IPA SMAN 2 Taruna Bhayangkara Genteng membuat inovasi agar kepastian berhelm ini bisa dilakukan dengan benar.



Bunyi alarm itu terdengar berdenging dari dalam helm. Tapi tidak lama, bunyi itu mati setelah kaca pelindung (face shield) dan tali pengaman (safety belt) pada helm itu terpasang. Sederhana, tapi inovasi yang ditemukan Adinda  Dyah  Fitriani, 17, dan Dino Surya  Wijaya,  17, taruna SMAN 2 Taruna Bhayangkara Genteng ini cukup menarik.



Penemuan alarm di helm yang diberi nama Sadar Etika Berlalu Lintas Agar Aman dan Nyaman bagi Generasi Muda (Seblang) ini, membuat kedua taruna SMAN 2 Taruna Bayangkara Genteng itu memenangi Lomba Duta Lalu Lintas tingkat Provinsi Jawa Timur.



Helm seblang ini sebenarnya sederhana. Mereka hanya menambah sensor yang dipasang di helm. Cara kerjanya, memastikan agar face shield dan safety belt dipasang dengan benar. Ketika salah satu belum dipasang, maka alarm akan berbunyi. ”Sampai ada bunyi klik, alarm berhenti,” jelas Dino.



Taruna asal Perumahan Gardenia, Kelurahan Pakis, Kecamatan Banyuwangi ini menjelaskan, alat akan bekerja ketika saklar dihidupkan. Sensor infrared akan bekerja mengetahui dan mengaktifkan semua sistem dan mendeteksi helm dipakai atau tidak. Apabila tidak digunakan, semua sistem alarm akan mati.



Ketika helm sedang digunakan, sistem alarm akan berbunyi apabila ada sesuatu yang belum terpasang sempurna, yakni face shiled dan safety belt. Sensor akan berbunyi ketika helm dipakai, namun face shield tidak tertutup. Itu juga terjadi apabila sensor klik pada tali pengaman juga belum terpasang dengan baik. ”Kalau salah satu dari tali dan face shield belum terpasang, alarm berbunyi,” jelasnya.



Ide pembuatan helm Seblang ini bermula saat mereka hendak mengikuti lomba Duta Lalu Lintas tingkat kabupaten. Tidak mau hanya mengandalkan presentasi dan kemampuan nonakademik saja, mereka mencoba membuat alat yang bisa digunakan untuk meningkatkan kesadaran keselamatan berkendara. Setelah melakukan riset dan konsultasi kepada guru dan pengasuh asrama, akhirnya ide helm itu muncul.



Tak disangka, temuan itu memenangi seleksi tingkat kabupaten. Saat dilombakan di tingkat Provinsi Jawa Timur, para juri pun terkesima. ”Intinya tidak hanya presentasi, juga mau bawa alat yang berguna,” terang putra pasangan Yudi Santoso dan Hartatik ini.



Setelah ide itu didapatkan dan kebutuhan alat terdata, keduanya harus mencari dan melengkapi kebutuhan tersebut. Untuk mendapatkan alat-alat yang diperlukan, Dino mengaku memanfaatkan helm yang sudah ada di rumahnya. Sedangkan kelengkapan seperti sensor, didapatkan dengan membeli secara online. ”Kami berdua membeli secara online,” terangnya.



Meski sudah memukau tim juri, kedua taruna ini tidak menyangkal jika temuannya perlu pengembangan. Menurutnya, untuk diproduksi masal atau dipakai secara luas, helm Seblang perlu dikembangkan lagi agar sensor lebih peka. Selain itu, sumber energi baterai juga perlu di-upgrade. Saat ini sumber utama listrik masih mengandalkan baterai. Dalam pengembangan berikutnya, kemungkinan akan diganti dengan panel surya. ”Kalau baterai bisa cepat habis, mungkin di sini ditambah sel surya,” jelas taruna yang juga menggemari Bahasa Inggris dan Jepang itu.



Untuk pencegahan kebakaran atau terjadinya arus pendek dalam rangkaian elektronik ini, Adinda Dyah Fitriani mengemukakan pemasangan sekring. Sehingga, bisa meminimalkan risiko terjadinya korsleting atau arus pendek. ”Di dalam helm ini ada sekringnya, kalau ada listrik terlalu besar, sistem mati,” terang taruni yang juga jago menari gandrung ini.



Adinda menyatakan kerja sensor masih terpengaruh cahaya matahari. Ketika digunakan di siang hari, terkadang cahaya yang terlalu terang mengakibatkan sensor kurang peka. ”Salah satu kendala kepekaan sensor dalam helm kurang kuat,” jelas taruni asal dari Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo.



Putri pasangan Budi Purwantoro dan Sri Utami itu berharap, ke depannya bisa dilakukan penyempurnaan dan helm ini bisa dimanfaatkan secara luas. Dengan demikian, pengendara motor bisa memastikan diri penggunaan helm sudah benar. ”Harapan bisa bermanfaat, khususnya di Banyuwangi, sehingga ketika memakai helm tahu cara benar atau salahnya,” pungkasnya. (abi)



Editor : Ali Sodiqin