JawaPos.com – Harga gabah di tingkat petani di Banyuwangi saat ini cenderung turun. Turunnya harga gabah disebabkan kualitas hasil panen padi kurang baik selama musim penghujan ini.
Namun demikian, pihak Persatuan Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Banyuwangi menyebut, harga gabah di Banyuwangi relatif masih stabil. Harga gabah di Banyuwangi dinilai masih sesuai standar, yakni di kisaran Rp 4.700 hingga Rp 4.900 per kilogram.
”Tapi jika ketentuan hampa mencapai 8 persen, kadar air 28 persen, maka itulah yang mengakibatkan harga gabah turun bisa Rp 4.500 per kilogram,” ungkap Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Banyuwangi Irwan Kuswanto.
Menurut Irwan, harga gabah di tingkat penggilingan saat ini berada di kisaran Rp 4.900/kg. Harga tersebut sudah normal. Mengenai adanya harga gabah yang mencapai Rp 4 ribu/kg hingga Rp 4.500/ kg disebabkan karena ketentuan hampa mencapai 8 persen dengan kadar air mencapai 28 persen. ”Sebenarnya bukan harga gabah anjlok, tetapi kualitas padinya rusak dan kurang bagus,” kata Irwan.
Irwan juga menyebut jika gabah Banyuwangi kalah bersaing dengan gabah dari kabupaten lain, seperti dari Kabupaten Lamongan, Ngawi, dan Tuban. Banyak penggilingan padi di Banyuwangi yang malah membeli padi dari luar daerah Banyuwangi karena kualitas gabah lebih baik.
Harga gabah Banyuwangi lebih rendah dibanding kabupaten lain, bisa jadi disebabkan karena petani di daerah lain memiliki pola tanam serempak, sehingga hama bisa lebih dikendalikan. Selain itu, petani di luar daerah juga sudah banyak yang memanen tanaman padi dengan menggunakan mesin combine, sehingga hasil panen padi jauh lebih bagus.
”Bukan kita tidak pro dengan buruh tani atau rakyat kecil, pada kenyataannya jika panen padi manual, biasanya akan dipotong saat hari masih gelap atau subuh, di mana embun masih tebal. Apalagi jika malam harinya terkena hujan. Maka kondisi padi yang hendak dipanen masih basah dan kandungan air cukup tinggi,” jelas Irwan.
Sementara dengan mesin combine, waktu panen menunggu matahari bersinar dalam kondisi padi sudah kering dan tidak mengandung banyak kadar air. Ketika padi masuk ke penggilingan padi tidak ada padi hampa, tidak ada damen. Maka secara otomatis harganya juga akan terkerek naik, karena bobotnya benar-benar bobot gabah berisi.
”Bisa dibayangkan jika padi sudah kurang normal akibat terserang hama penyakit, memotongnya subuh, kena hujan, dan masih basah. Akhirnya begitu digiling gabah hampa ikut masuk. Jadi, dengan harga Rp 4.700/kg itu sudah bagus. Tapi kalau gabah dari luar Banyuwangi kita bisa beli sampai Rp 5 ribu/kg,” terang Irwan.
Pengusaha penggilingan padi, lanjut Irwan, membeli gabah dari luar daerah Banyuwangi dengan harga maksimal atau harga tinggi karena kualitasnya memang cukup baik. ”Padi hampa hanya 3 persen, benar-benar seperti bibit padi. Karena kita beli beras bukan beli sekam,” tegasnya.
Hanya, Irwan mengatakan tidak sedikit petani yang salah tompo (tafsir, Red). Karena padinya terkena penyakit dan kualitasnya jelek saat ditimbang di penggilingan padi dan dihargai Rp 4 ribu/kg, seolah-olah harga gabah turun dan hancur. Padahal bukan harga gabah yang hancur, melainkan kualitas padinya yang memang kurang baik. ”Mungkin jika musim tanam bisa serempak, ada hama penyakit bisa sama-sama diobati, maka otomatis bisa sama-sama bagus,” pungkasnya. (ddy/afi/c1)