BANYUWANGI – Tanjakan jalan raya Gunung Ijen yang kerap memakan korban jiwa menjadi perhatian khusus Satuan Lalu Lintas (Sastlantas) Polres Banyuwangi. Salah satunya dengan berkoordinasi dengan para pihak dan pemangku kebijakan, untuk mengantisipasi jatuhnya korban jiwa akibat kecelakaan lalu lintas di sepanjang jalur menuju Gunung Ijen.
Beberapa opsi yang akan dilakukan Satlantas Polres Banyuwangi, yakni pemasangan rambu-rambu lalu lintas tambahan berupa papan imbauan di sepanjang jalur tanjakan dan menurun. Pasalnya, dari catatan Satlantas, sudah tiga kejadian kecelakaan lalu lintas di tanjakan jalan raya Gunung Ijen tersebut selalu korbannya selalu meninggal dunia.
Yang terakhir adalah peristiwa kecelakaan yang terjadi pada Minggu (4/11) lalu. Satu dari dua pelajar meninggal dunia setelah motor Honda Beat yang dikendarainya menabrak pohon di jalan raya menurun kawasan pegunungan Ijen, Kecamatan Licin.
Korban meninggal itu adalah Rio Taufik, asal Dusun Tapansari, Desa Sraten, Kecamatan Cluring. Sedangkan korban luka adalah Riko Sandi Kristian, warga Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi. Keduanya tercatat sebagai pelajar dari SMK 17 Agustus 1945 Cluring.
Kedua pelajar itu baru saja pulang dari arah Paltuding. Sesampainya di lokasi kejadian, dimungkinkan rem motor blong dan langsung menabrak pohon yang ada di depannya. Motor Honda Beat dengan nomor polisi P 825 WX yang dikendarai korban hancur. Sementara kedua korban langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis.
Kanitlaka Polres Banyuwangi Ipda Ardhi Bita Kumala mengatakan, pihaknya tidak bisa bekerja sendirian dalam menangani persoalan antisipasi kecelakaan di sepanjang jalur Ijen. Butuh koordinasi dan kerja sama para pihak, instansi, dan pemangku kebijakan di Banyuwangi. ”Jika kerja sendiri tidak ada dukungan instansi ya percuma,” ungkapnya.
Sementara ini di sepanjang jalur Ijen tersebut masih minim rambu-rambu lalu lintas. Kalaupun ada, kata Ardhi hanya berupa papan imbauan pada jalan menurun. Isi papan imbauan itu di antaranya agar pengendara motor ataupun mobil tidak mematikan mesin saat jalan turun, dan menggunakan gigi satu saat turun. ”Memang perlu duduk bersama antarsemua pihak untuk antisipasi kecelakaan lalu lintas ini agar korban tidak terus bertambah,” jelas Ipda Ardhi.
Kanit Penyelidikan dan Rekayasa (Dikyasa) Iptu Datik Hariati mengatakan, dalam sejumlah kesempatan sosialisasi dia juga kerap menyampaikan agar pengendara motor matic tidak disarankan berkendara ke Gunung Ijen. Pertimbangannya, karena dapat membahayakan keselamatan pengendara.
Dari hasil penyelidikan, sejumlah kejadian kecelakaan lalu lintas di jalur Ijen tersebut penyebabnya adalah rem blong. Hal itu mudah terjadi karena rem bergesekan terus menerus yang mengakibatkan kampas rem habis. ”Jika ngeyel naik Ijen dengan motor matic, maka turunnya bisa dituntun saja,” ujarnya.
Iptu Datik mengaku, untuk menekan angka kecelakaan lalu lintas di jalur Ijen tersebut butuh dukungan semua pihak. Apalagi, saat ini jalan menuju kawasan wisata yang terkenal dengan api birunya itu sudah sangat memadai. Bahkan, jalan raya juga sudah dilebarkan. Meskipun sejauh ini masih belum terpasang lampu penerangan jalan umum (LPJU) di sepanjang jalur menuju Gunung Ijen.
”Kami juga meminta bantuan dari pihak pengelola Ijen juga harus ikut menyosialisasikan keselamatan berlalu lintas terutama kepada para wisatawan,” tandasnya.