BANYUWANGI – Diam-diam, Museum Geologi Nasional Bandung membuka pameran singkat di Bumi Blambangan kemarin (5/4). Mereka menampilkan berbagai replika fosil dan bebatuan di Hotel Santika Banyuwangi.
Ada replika fosil tengkorak gajah Blora berukuran besar terpajang di lokasi tersebut. Barang-barang yang dipamerkan tersebut merupakan koleksi Museum Geologi Bandung bersama Pusat Survei Geologi Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi, Mitigasi, dan Bencana Geologi (PVMBG).
Mereka juga menampilkan beberapa jenis batuan termasuk bantuan mengandung emas dari kawasan Gunung Tumpang Pitu. Ada juga batu sulfur alias belerang dari Gunung Ijen. ”Kalau itu batu asli dan mengandung emas. Warnanya memang tidak mengkilap seperti emas, tetapi itu mengandung emas. Kalau batu yang mengkilap mirip warna emas, biasanya itu hanya batu pirit,” jelas salah satu petugas Museum Geologi.
Selain itu, ada pula tengkorak manusia prasejarah jenis Homo erectus. Tengkorak yang sudah menjadi batu tersebut diperkirakan berusia 800 ribu -700 ribu tahun lalu .
Kepala Seksi Peragaan Museum Geologi Bandung Arief Kurniawan menyebutkan, kegiatan ini merupakan program tahunan museum Geologi Bandung sebagai perwujudan tujuan museum yakni edukasi, rekreasi, dan konservasi. Salah satunya, kata dia, untuk mengenalkan keberadaan alam semesta dari sudut pandang geologi. Seperti keberadaan gunung api yang memiliki dua dampak baik negatif dan positif. ”Kita ingin sampaikan semua berkaitan dari sudut pandang geologi,” terangnya.
Khusus untuk kegiatan di Banyuwangi, Museum Geologi menyasar kalangan pendidikan terutama guru mata pelajaran geografi. Sehingga diharapkan, mereka semakin mengetahui dan memahami kondisi daerahnya dari sisi geologi. ”Kita ingin buka wawasan pendidik biar membuka dan melihat Banyuwangi dari sisi geologi,” ucapnya.
Selain pameran, mereka juga melakukan sosialisasi kepada guru geografi dengan cara kelas indoor dan tinjau lapangan. ”Di Banyuwangi berbarengan dengan sosialisasi ilmu geografi dilanjutkan seminar outdoor di Pulau Merah,” terangnya.
Sayangnya, museum tidak membawa banyak koleksi. Meski begitu, kata Arief, pihaknya memastikan ada fosil, artefak, dan batuan yang dipamerkan. Ada juga informasi audio visual maupun cetak yang dipasang di lokasi pameran. ”Ini segmennya memang utamanya pelajar dan guru,” terangnya.
Sementara itu, maskot yang dipamerkan adalah fosil Homo erectus. Koleksi ini dipilih karena dikenal sebagai satu-satunya tengkorak humanoid paling lengkap yang ditemukan di Asia Tenggara. ”Ada batuan, tapi utamanya Homo erectus. Itu koleksi yang mendunia,” jelasnya.
Salah satu pengujung, Vita, 26, mengatakan, pameran ini merupakan hal baru baginya. Setelah mengunjungi arena pameran, dia mengaku memperoleh tambahan pengetahuan seputar gunung api dan fosil. ”Ini baru, sebelumnya belum pernah. Ada banyak pengetahuan,” ujarnya.(sli/bay)
Editor : AF Ichsan Rasyid