Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketala Berapa pun Bisa Ditampung Pasar Bali

AF Ichsan Rasyid • Rabu, 28 Maret 2018 | 14:00 WIB
ketala-berapa-pun-bisa-ditampung-pasar-bali
ketala-berapa-pun-bisa-ditampung-pasar-bali



ROGOJAMPI – Meski dikenal sebagai lumbung padi, hasil pertanian Banyuwangi cukup moncer di pasar Pulau Dewata. Salah satunya adalah produksi ketela rambat Bumi Blambangan yang masih dibutuhkan untuk memasok kebutuhan pasar di Pulau Bali.


Seperti yang dialami Hariyanto, 56, petani ketela rambat asal Desa Karangbendo, Kecamatan Rogojampi. Dia saat ini tengah memanen ketela di lahan seluas 7.777 meter persegi. Diperkirakan, proses panen ketela tersebut akan memakan waktu empat hari. ”Ini masih terus berlanjut sampai besok,” terangnya kemarin.


Menurut Hariyanto, hasil panen ketela bisa dibilang cukup bagus. Lahan miliknya diperkirakan menghasilkan 25 ton ketela rambat. Harga jual dari pedagang pun saat ini juga terbilang baik. ”Sekarang mulai Rp 1.800 per kilogram (kg),” jelasnya.


Dengan harga itu, petani mengaku sudah bisa mendapatkan hasil lumayan tinggi. Sebagai perhitungan sederhana, biaya pengolahan umumnya sekitar Rp 6 juta. Sedangkan biaya sewa lahan mencapai Rp 5 juta. Dengan harga ketela Rp 1.800 per kg, jika hasil panen sekitar 20 ton maka petani bisa memperoleh uang sekitar Rp 36 juta. Setelah dipotong biaya sewa dan ongkos lain-lain, maka setidaknya masih ada hasil bersih sekitar Rp 16 juta. ”Harga ini kita masih sangat diuntungkan, modal bisa balik dan ada untungnya,” terangnya.


Sementara itu, Sofiandi, petani dari Desa/Kecamatan Cluring yang menyetorkan hasil panen langsung ke pabrik menyebutkan, saat ini masa panen ketela sedang berlangsung. Sedikit berbeda dengan petani yang menjual hasil panen kepada pedagang, Sofi mengaku melakukan perawatan dengan pola yang lebih sistematis.


Sofiandi menyebutkan, untuk luas tanah sekitar satu hektare, bisa menghasilkan ketela hingga 25 ton. ”Kalau rata-rata panen memang bisa sampai 25 ton,” terangnya.


Namun untuk harga, Sofiandi mengaku standar pabrik berada pada harga maksimal Rp 1.600 per kg. Jika petani memperoleh harga Rp 1.800 per kg, biasanya pedagang akan memilih berdasar ukuran ketela yang dipanen. ”Harga segitu bisanya di-size dulu,” terangnya.


 Sementara itu, Agus Santoso, 32, pedagang ketela dari Desa Karangsari, Kecamatan Sempu, mengatakan bahwa saat ini permintaan ketela paling banyak berasal dari Bali. Secara umum, kata dia, stok ketela saat ini terbilang sedikit. Sehingga jumlah panen ketela sebanyak apa pun diperkirakan masih bisa ditampung pasar di Bali. ”Saat ini terbanyak permintaan dari Bali. Stok barangnya sedikit, jadi kirim berapa pun jumlahnya masih bisa masuk,” terangnya. (sli/bay)

Editor : AF Ichsan Rasyid