BANYUWANGI – Semangat, keceriaan, dan haru-biru melingkupi Pendapa Sabha Swagata Blambangan pagi kemarin (27/2). Salah satu artis papan atas tanah air, Dewi Yull tampil menghibur, berbagi pengalaman, dan menyemangati para orang yang hadir pada perhelatan Festival Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang digelar Pemkab Banyuwangi.
Ya, pagi kemarin sekitar 1.500 anak difabel tumplek blek di rumah dinas bupati tersebut. Mereka datang untuk mengikuti Festival ABK 2018. Dalam festival tersebut, mereka saling unjuk kreasi menampilkan bakat dan keahliannya. Ada yang jadi dalang, bermain catur, menari, hingga menjadi pendongeng.
Bupati Abdullah Azwar Anas melalui komunikasi video streaming mengatakan, festival ini menjadi ajang unjuk keterampilan dari anak-anak penyandang disabilitas. Mereka menampilkan berbagai bakat kepada publik.”Kita menyaksikan betapa kerennya anak-anak ini,” ujarnya.
Anas mengatakan festival ini adalah bagian dari rehabilitasi berbasis masyarakat. Semua berbaur menjadi satu dengan kemasan festival yang menggembirakan.
Sementara itu, artis Dewi Yull bukan hanya menghibur anak-anak berkebutuhan khusus yang hadir di Pendapa. Duta Disabilitas ini juga memberikan motivasi kepada anak-anak, orang tua, dan guru tentang pola pengasuhan terbaik ABK berdasar pengalaman yang dimilikinya.
Bagi Dewi Yull, anak-anak berkebutuhan khusus ini adalah anak-anak yang istimewa, mereka memiliki bakat dan potensi yang luar biasa. ”Saya merasa ini festival terbaik khusus ABK yang ada di Indonesia, karena saya melihatnya ini ditampilkan untuk menumbuhkan semangat dan percaya diri pada anak-anak. Sebagai Duta Disabilitas, saya merasa festival ini sangat menginspirasi untuk bisa ditiru daerah lain,” kata dia.
Bukan itu saja, pada kesempatan itu Dewi Yull menyanyikan lagu berjudul ”Putri”. Lagu ciptaan Chossy Pratama itu dibuat untuk mengenang anak pertama Dewi Yull, Giscka Agustina Putri Sahetapy, yang telah meninggal dunia. Giscka merupakan anak berkebutuhan khusus (tunarungu) yang meninggal dunia pada usia 28 tahun. Dari Giscka, Dewi Yull mendapat pengalaman berharga dalam mendidik ABK.
Tak pelak, saat lantunan lagu itu mengalun, banyak orang tua, wali murid, guru menitikkan air mata. ”Saya sangat menyadari, para orang tua dan guru telah memberikan kesabaran dalam mendidik anak kebutuhan khusus. Tapi yakinlah, Anda akan mendapat hadiah yang luar biasa dari mereka,” kata artis yang dinobatkan sebagai Duta Disabilitas Indonesia itu.
Sambil menggunakan bahasa isyarat dan verbal, artis yang memiliki nama lengkap Raden Ayu Dwi Pudjiati itu, menceritakan pengalamannya mendidik dua dari empat anaknya yang berkebutuhan khusus. Selain Giscka, anak Dewi Yull lainnya, Panji Surya Putra Sahetapy, juga memiliki kebutuhan khusus yang sama. ”Dua anak saya tuli, maaf saya menyebutkan tuli karena anak saya lebih nyaman disebut tuli daripada tunarungu,” kata Dewi Yull.
Sejak masih berusia 4 tahun, Giscka senang mencoret-coret di kertas. Melihat kebiasaan anaknya itu, Dewi Yull lalu mendatangkan guru pelukis, karena dia melihat di situlah kegemaran anaknya.
Giscka merupakan pengalaman pertama Dewi Yull merawat anak berkebutuhan khusus. Awalnya Giscka disekolahkan di sekolah umum dekat rumahnya. ”Saat itu saya belum punya pengalaman apa-apa. Saya sekolahkan Giscka di sekolah umum, karena waktu itu belum ada sekolah inklusi seperti saat ini, sambil saya cari tahu apa yang harus dilakukan nantinya," kata Dewi Yull.
Begitu masuk SD, Giscka diajarkan bicara melalui verbal. Hingga kelas dua sudah gelisah. Saat kelas 3 dia sudah mulai terganggu di sekolah umum, karena teman-temannya tidak mengerti apa yang dibicarakan. ”Baru setelah itu saya sekolahkan ke Sekolah Luar Biasa. Sambil terus mengembangkan potensinya,” kata Dewi Yull.
Hasilnya, di usia 12 tahun dia menjadi pelukis yang bisa pameran tunggal di Ismail Marzuki, Jakarta. Menurut Dewi Yull, anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang beraneka ragam. ”Bagi orang tua dan guru anak berkebutuhan khusus, bersabarlah dan cintailah mereka. Anda memiliki anak istimewa yang peka perasaannya. Mereka tahu Anda sedang senang atau sedih, bahkan ketika Anda sedang menyembunyikan kesedihan,” paparnya. (sgt/bay)
Editor : AF Ichsan Rasyid