Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Nelayan Nihil Tangkapan Ikan

Rahman Bayu Saksono • Sabtu, 17 Februari 2018 | 21:00 WIB
nelayan-nihil-tangkapan-ikan
nelayan-nihil-tangkapan-ikan



KALIPURO – Ke­hidupan nelayan tradisional semakin sulit. Hal ini di­pengaruhi oleh kondisi cuaca yang buruk sejak beberapa minggu terakhir. Tak hanya itu, para nela­yan pun juga harus lebih bersabar lagi. Karena, di musim migrasi ikan tuna ini mereka harus pulang melaut dengan tangan hampa.



Nahrowi, 45, nelayan Pantai Bulusan Utara, Kecamatan Kali­puro mengaku bahwa hasil tangka­pannya semakin menurun. Entah karena faktor cuaca atau memang alur migrasi ikan berubah. Musim sebelumnya para nelayan banyak mendapatkan hasil yang me­muaskan. Dalam satu hari mereka sanggup menaikkan ikan dengan berat lima hingga sepuluh kilo­gram. ”Tak hanya masalah cua­ca yang harus kami alami, namun juga masalah keter­sediaan ikan di laut,” ujar Nahrowi.



Keadaan tersebut mem­buat penghasilan ne­layan tradisional semakin berkurang. Dalam sehari, penghasilan yang diterima nelayan berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. ”Hasil yang kami terima sangat sedikit. Sementara banyak rintangan yang harus dilewati. Apalagi jika hujan dan badai saat berada di tengah laut,” ucap Nah­rowi.



Hal ini dibenarkan Nasrul, 35, nelayan Pantai Bulusan Utara lainnya. Dikatakan, kesu­litan un­tuk menangkap ikan dialaminya saat cuaca tidak bersahabat. Hal ini karena gelombang air laut lebih kencang dan di­sertai hujan tiada henti. ”Jika hujan di pagi hari, maka kami para nelayan tidak pergi menangkap ikan. Hal ini karena waktu yang sangat efektif untuk berlayar adalah di pagi hari,” jelas Nasrul.



Sementara itu, Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi Agung Nugroho mengatakan, bulan Februari 2018, untuk wilayah Kabupaten Banyuwangi masih berada pada masa puncak musim penghujan. 



”Kondisi tersebut diciri-cirikan dengan pola daerah tekanan udara rendah di belahan bumi selatan dan angin monsun baratan yang stabil,” papar Agung.



Selama Februari 2018, Lanjut Agung, tetap diwaspadai potensi terjadinya cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang sering disertai kilat petir dan angin kencang. Hujan ringan dengan durasi singkat kerap terjadi selama masa puncak musim penghujan yang sedang berlangsung hingga pertengahan bulan Maret.



”Untuk perairan Selat Bali, tinggi ombak masih berkisar antara satu hingga dua meter. Sedangkan tinggi ombak untuk perairan Pantai Selatan diperkirakan mencapai ketinggian tiga hingga empat meter,” tandas Agung. (*)


Editor : Rahman Bayu Saksono
#kalipuro #nelayan #bmkg