KALIPURO – Entah apa yang dipikirkan oleh sekelompok bocah yang rata-rata masih duduk di bangku SD tersebut. Mereka tiba-tiba lari ke badan jalan menghadang pikap yang melaju di jalan raya Desa Ketapang, siang kemarin (11/2).
Keenam bocah itu dengan santai mengejar pikap kemudian meloncat ke atas kendaraan bak terbuka tersebut. Aktivitas mereka tidak hanya membahayakan diri sendiri, akan tetapi juga bagi pengguna jalan lainnya.
Bahrudin, 45, warga Desa Ketapang mengaku, sering melihat banyak anak usia belasan tahun mengejar mobil pikap untuk mendapatkan tumpangan gratis. Warga juga sering menegur aksi bocah itu. Namun teguran warga tidak digubris oleh bocah-bocah kecil tersebut.
Setiap Hari Minggu banyak anak yang nggandol pikap di pinggir jalan. Mereka bergerombol datang dari arah kota saat pagi hari. Kemungkinan main-main di sekitar pantai di area sekitar pelabuhan, terus siangnya mereka balik ke kota nggandol pikap,” ujar Bahrudin.
Ansori, 35, sopir pikap mengatakan, aksi bocah-bocah itu sangat meresahkan pengguna jalan. Apalagi mereka sangat ngawur saat menaiki pikap yang sedang melaju. Kebanyakan sopir pikap tidak tahu jika sedang digandoli oleh bocah-bocah kecil yang ingin menumpang. “Iya sangat meresahkan. Kalau tiba-tiba mereka jatuh kan sopir yang disalahkan. Padahal sopir juga tidak tahu apa-apa dan tidak berniat untuk memberikan tumpangan,” ungkap Ansori.
Saat hendak dikonfirmasi keenam bocah tersebut langsung kabur menuju gang kecil yang mengarah ke Pelabuhan Landing Craft Machine (LCM). Aksi bocah tersebut membahayakan keselamatan diri mereka serta para pengguna jalan lainnya.
Ulah bocah-bocah itu pun juga menjadi perhatian. Ruas Jalan Gatot Subroto sempat macet sepanjang 200 meter akibat aksi bocah-bocah tersebut. “Memang bandel-bandel anak yang sering numpang pikap itu. Ada lagi anak punk yang baru datang dari Bali. Bikin jalan macet dan ngawur kalau mau menghentikan kendaraan. Mereka nekat lari bergerombol ke tengah jalan,” tandas Muksin, 45, pedagang buah di Jalan Gatot Subroto, Desa Ketapang. (*)
Editor : Rahman Bayu Saksono