RADAR BANYUWANGI – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi terus memperkuat konsolidasi organisasi. Setelah merampungkan sejumlah agenda, pengurus kini menyiapkan langkah lanjutan. Salah satunya apel kader NU yang ditargetkan melibatkan sekitar 35 ribu peserta se-Jawa Timur pada November 2026.
Rencana tersebut mengemuka dalam tasyakuran, silaturahmi, dan konsolidasi PCNU Banyuwangi di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Muncar, Kamis (15/10).
Kegiatan itu sekaligus menjadi momentum mempererat kebersamaan pengurus dan memastikan program organisasi berjalan hingga tingkat ranting.
Rais Syuriyah PCNU Banyuwangi KH Fahrudin Manan mengatakan, tasyakuran digelar sebagai ungkapan syukur setelah sejumlah agenda organisasi terlaksana. Di antaranya pelantikan pengurus, musyawarah kerja (musyker), serta program turun ke bawah (turba) bertajuk Ngerandu NU di berbagai Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).
PCNU Banyuwangi juga telah membentuk lembaga-lembaga untuk memperkuat pelayanan dan pelaksanaan program organisasi.
Menurut Fahrudin, kebersamaan seluruh unsur kepengurusan menjadi modal penting dalam menjaga soliditas NU. Mulai mustasyar, a'wan, syuriyah, tanfidziyah, lembaga, hingga badan otonom (banom).
Konsolidasi tersebut juga diarahkan untuk mematangkan agenda menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober 2026.
Baca Juga: LPBHNU PCNU Banyuwangi Dilantik, Siapkan Paralegal hingga Akar Rumput
Dorong 19 Lembaga Bekerja Nyata
Ketua Tanfidziyah PCNU Banyuwangi H. Achmad Turmudzi menegaskan, penguatan organisasi tidak boleh berhenti pada pembentukan struktur. Setiap gagasan harus ditindaklanjuti melalui program nyata yang manfaatnya dirasakan warga NU.
Saat ini, PCNU Banyuwangi telah menyiapkan 19 lembaga sebagai perangkat organisasi. Seluruhnya didorong menjalankan program sesuai bidang dan tanggung jawab masing-masing.
Turmudzi juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai lembaga eksternal. Kerja sama tersebut diharapkan memperluas jangkauan pelayanan NU di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Untuk memperkuat koordinasi, PCNU Banyuwangi merencanakan konsolidasi akbar yang melibatkan seluruh unsur organisasi.
Langkah itu ditujukan untuk menyelaraskan program dari tingkat cabang, MWCNU, hingga ranting. Dengan demikian, setiap lembaga dan badan otonom dapat bergerak bersama tanpa kehilangan fungsi masing-masing.
Baca Juga: LPBI PCNU Banyuwangi Siap Jaga Bumi, Sampah Jadi Sasaran Gerakan Pertama
Kaderisasi dan Tata Kelola Jadi Sorotan
Selain penguatan program, forum tersebut membahas tata kelola organisasi, mekanisme pemilihan kepemimpinan, dan kaderisasi.
Dalam pembahasan mengenai Peraturan Perkumpulan (Perkum) NU, musyawarah untuk mencapai mufakat mendapat penekanan. Forum juga menyinggung mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam proses pemilihan kepemimpinan sesuai ketentuan organisasi.
Penguatan kaderisasi turut menjadi perhatian. Pendidikan Dasar Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PD-PKPNU) dan Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMK-NU) dipandang penting untuk menyiapkan calon pemimpin yang memahami nilai dan tanggung jawab organisasi.
Sementara itu, persoalan internal diharapkan diselesaikan melalui mekanisme organisasi, termasuk Majelis Tahkim sesuai kewenangannya. Langkah tersebut diperlukan untuk menjaga ketertiban dan keharmonisan jamiah.
Baca Juga: Jagong Nahdliyin Dibuka, Lakpesdam PCNU Banyuwangi Bedah Problem Daerah
Siapkan Apel Kader Se-Jawa Timur
Agenda besar lain yang disiapkan PCNU Banyuwangi adalah apel kader NU pada November mendatang. Kegiatan tersebut diproyeksikan menghadirkan sekitar 35 ribu kader dari berbagai daerah di Jawa Timur.
Apel kader diharapkan menjadi momentum memperkuat solidaritas sekaligus meneguhkan komitmen pengabdian warga NU.
Persiapan kegiatan membutuhkan koordinasi lintas tingkatan, mulai Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), PCNU, MWCNU, hingga ranting.
Melalui kegiatan tersebut, PCNU Banyuwangi ingin memastikan kader NU tidak sekadar memiliki identitas organisasi, tetapi juga mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat.
Baca Juga: PCNU Banyuwangi Turun ke Jalan, Seribu Nasi Bungkus untuk Sopir Truk yang Terjebak Antrean Ketapang
Kiai Ingatkan Pentingnya Menjaga Khittah NU
Dalam kesempatan yang sama, Mustasyar PCNU Banyuwangi KH Fathullah Suyuti Toha menyampaikan tiga pesan penting bagi pengurus NU, yakni tahu diri, tahu situasi, dan istikamah.
Prinsip tahu diri mengajarkan setiap pengurus untuk memahami kemampuan, kewenangan, serta tanggung jawabnya. Jabatan dalam organisasi merupakan amanah yang harus dijalankan dengan rendah hati.
Adapun tahu situasi berarti mampu menempatkan dan menghormati orang lain sesuai kedudukan serta tanggung jawabnya. Perbedaan pengalaman dan pandangan semestinya menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Sementara itu, istikamah menuntut konsistensi dalam menjalankan amanah. Pengabdian kepada NU tidak cukup melalui simbol dan pernyataan, tetapi harus dibuktikan dengan tindakan.
Nasihat tersebut sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga Khittah NU sebagai organisasi sosial keagamaan.
NU diharapkan tetap berpegang pada jati dirinya sebagai jamiah diniyah ijtimaiah yang bergerak dalam bidang keagamaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kemaslahatan umat.
Perbedaan pilihan politik merupakan hak pribadi setiap warga NU. Namun, kepentingan politik praktis tidak semestinya menyeret organisasi ke dalam keberpihakan yang berpotensi memecah persatuan.
Karena itu, para pengurus diingatkan untuk mengutamakan kepentingan organisasi di atas ambisi pribadi maupun kelompok.
Melalui konsolidasi tersebut, PCNU Banyuwangi berharap seluruh perangkat organisasi semakin solid, kaderisasi berjalan berkelanjutan, dan program kerja memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Editor : Lugas Rumpakaadi