Air Sumur Bor di Srono Mendadak Berbusa dan Bau Menyengat, Warga Gatal-Gatal

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Rabu, 14 Oktober 2026 | 11:30 WIB
Petugas Damkarmat Genteng menyemprotkan air bertekanan tinggi ke sumur bor milik warga Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Senin (12/10). (Foto: Damkarmat Genteng)
Petugas Damkarmat Genteng menyemprotkan air bertekanan tinggi ke sumur bor milik warga Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Senin (12/10). (Foto: Damkarmat Genteng)

RADAR BANYUWANGI – Air sumur bor sedalam 30 meter di Dusun Pekulo, Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, Banyuwangi, mendadak berbusa dan mengeluarkan bau menyengat pada Senin (12/10). Kondisi tersebut membuat pemilik sumur mengeluhkan gatal-gatal setelah mandi. Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmat) turun tangan membersihkan sumur, tetapi penyebab perubahan kondisi air belum diketahui dan kelayakannya untuk konsumsi masih harus diuji di laboratorium.

Penanganan dilakukan petugas Damkarmat Sektor Genteng setelah warga meminta bantuan untuk membersihkan sumur yang airnya menimbulkan bau tak sedap dan busa. Petugas menggunakan metode penggurahan dengan menyemprotkan air bertekanan tinggi ke dalam sumur.

Koordinator Damkarmat Sektor Genteng Sutikno mengatakan, metode tersebut bertujuan mendorong endapan pasir, lumpur, serta air berbau yang berada di dasar dan bagian dalam sumur agar keluar ke permukaan.

“Penanganannya dengan metode penggurahan, yaitu menyemprotkan air bertekanan tinggi ke dalam sumur. Cara ini dilakukan untuk mendorong pasir, lumpur, dan air yang berbau agar keluar,” katanya.

Proses pembersihan sumur bor tersebut berlangsung sekitar 30 menit. Selama penanganan, material berupa pasir, lumpur, dan air berbau menyengat keluar dari dalam sumur setelah terdorong semprotan bertekanan tinggi.

“Kotoran yang ada di dalam sumur keluar dengan sendirinya setelah didorong menggunakan semprotan air bertekanan tinggi,” jelas Sutikno.

Penyebab Air Sumur Berbusa Belum Diketahui

Meski proses penggurahan telah dilakukan, penyebab pasti air sumur bor di Dusun Pekulo berbusa dan berbau menyengat belum diketahui. Belum ada hasil pemeriksaan yang memastikan apakah kondisi tersebut berkaitan dengan endapan di dalam sumur, pencemaran, atau faktor lainnya.

Sutikno menyebutkan, pemilik sumur sempat mengeluhkan gatal-gatal setelah mandi menggunakan air tersebut. Keluhan itu menjadi perhatian, terlebih air sumur bor berpotensi digunakan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga.

Namun, tanpa pemeriksaan lebih lanjut, belum dapat dipastikan apakah keluhan gatal tersebut disebabkan langsung oleh kondisi air sumur.

Karena itu, air yang terlihat lebih bersih setelah proses penggurahan tidak serta-merta dapat dinyatakan aman untuk digunakan, terutama untuk kebutuhan konsumsi.

Damkar Imbau Air Sumur Tak Digunakan untuk Minum

Sutikno mengimbau pemilik sumur agar tidak terburu-buru menggunakan air tersebut untuk minum maupun memasak. Pengujian kualitas air di laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pencemar atau faktor lain yang menyebabkan air berbusa dan berbau.

“Pengujian kualitas air di laboratorium diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat kandungan pencemar atau faktor lain. Untuk sementara, air sebaiknya tidak digunakan untuk minum maupun memasak,” pungkasnya.

Hasil pengujian laboratorium nantinya diperlukan untuk memastikan kualitas air dan menentukan apakah sumur tersebut aman digunakan kembali. Sampai ada kepastian, warga disarankan menggunakan sumber air lain yang telah diketahui aman untuk kebutuhan minum dan memasak.

Peristiwa di Desa Kepundungan, Kecamatan Srono, ini menjadi pengingat bahwa perubahan warna, bau, maupun munculnya busa pada air sumur perlu diwaspadai. Pembersihan sumur dapat membantu mengeluarkan endapan, tetapi pemeriksaan kualitas air tetap diperlukan untuk memastikan keamanannya. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
air sumur berbusa sumur bor Srono air sumur berbau kualitas air sumur Damkar Banyuwangi