RADAR BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi memperketat penataan kawasan hulu menjelang musim hujan untuk menekan risiko banjir bandang dan tanah longsor. Pengelola perkebunan swasta hingga PTPN diminta memperkuat tutupan lahan dengan memperbanyak tanaman keras, terutama di lereng rawan longsor dan sempadan sungai.
Langkah tersebut menjadi perhatian karena kondisi kawasan hulu berkaitan langsung dengan kemampuan lahan menahan dan menyerap air hujan. Selain perubahan fungsi lahan, riwayat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi faktor yang perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi kondisi tutupan vegetasi.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Banyuwangi Danang Hartarto mengatakan, seluruh pengelola perkebunan di kawasan hulu telah dikumpulkan. Mereka diberikan edukasi sekaligus diminta memperhatikan komposisi tutupan lahan, khususnya di kawasan dengan tingkat kemiringan dan potensi longsor tinggi.
“Di wilayah hulu kita tata semua. (Pengelola) semua kebun kita kumpulkan, kita edukasi untuk selalu menanam tanaman keras,” ujar Danang.
Lereng Curam Tak Bisa Sembarangan Ditanami
Penataan kawasan hulu tidak hanya menyasar jenis tanaman. Pemkab Banyuwangi juga mulai memperketat pola tanam berdasarkan kondisi lahan.
Salah satu ketentuannya, lahan dengan kemiringan lebih dari 15 persen tidak diperbolehkan ditanami tebu. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga kestabilan tanah sekaligus mengurangi potensi erosi dan limpasan air ketika hujan berintensitas tinggi.
Sementara itu, kawasan sempadan sungai di sekitar perkebunan diarahkan tetap memiliki vegetasi keras. Pemkab merekomendasikan penanaman tanaman keras pada radius sekitar 50-70 meter dari sungai sebagai bagian dari upaya memperkuat struktur tanah.
Vegetasi di kawasan tersebut diharapkan mampu menjadi penahan alami saat hujan deras. Dengan begitu, air tidak langsung mengalir dalam volume besar menuju bagian hilir yang berpotensi meningkatkan risiko banjir.
Pola tanam perkebunan pun diarahkan agar tidak semata-mata mengejar produktivitas komoditas. Tanaman keras menjadi prioritas, sedangkan tanaman produksi masih dapat dikembangkan sebagai tanaman selingan.
Kebun di Hulu Diawasi hingga Gunakan Satelit
Pengawasan terhadap pengelola perkebunan dilakukan secara berkala. Evaluasi selama ini dilakukan setiap enam bulan dengan melibatkan berbagai pihak yang mengelola kawasan perkebunan di wilayah hulu.
Sejumlah kawasan yang masuk dalam pengawasan antara lain Kalibendo, Licin, Glenfalloch, Glenmore, Bumisari, hingga Kalibaru.
Pemkab tidak hanya mengandalkan pemeriksaan lapangan. Data kondisi lahan akan dipadukan dengan pemantauan berbasis teknologi satelit dan drone. Sistem tersebut digunakan untuk melihat perkembangan tutupan lahan sekaligus mengevaluasi tata kelola kawasan hulu.
Danang mengatakan koordinasi dengan Gabungan Perusahaan Perkebunan (GPP) juga terus dilakukan. Salah satu fokusnya adalah mempercepat pengumpulan data komoditas serta evaluasi tata ruang hijau di kawasan perkebunan.
Termasuk kawasan sempadan sungai yang sebelumnya menjadi perhatian. Area tersebut kini direkomendasikan untuk dipulihkan melalui penanaman kembali vegetasi keras.
Editor : Ali Sodiqin“Mulai tahun ini kita evaluasi terus. Harapannya ke depan untuk pengendalian banjir-banjir, terutama di sempadan sungai itu bisa tuntas dan terkendali dengan baik,” pungkasnya. (fre/sgt)