Bendera Setengah Tiang Berkibar, Monumen Pancasila Jaya Cluring Dipadati Peziarah

Zamrozi Wahyu • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 08:00 WIB
Jajaran Pemerintah Desa/Kecamatan Cluring melaksanakan tabur bunga di lubang buaya Dusun Cemetuk, Rabu (30/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)
Jajaran Pemerintah Desa/Kecamatan Cluring melaksanakan tabur bunga di lubang buaya Dusun Cemetuk, Rabu (30/9). (Zamrozi Wahyu/Radar Banyuwangi)

RADAR BANYUWANGI – Puluhan tahun berlalu, tetapi kisah kelam yang terukir di Monumen Pancasila Jaya, Desa Cluring, Kecamatan Cluring, Banyuwangi, masih menyisakan jejak sejarah yang tak terlupakan. Setiap 30 September dan 1 Oktober, monumen yang menjadi pengingat tragedi berdarah 1965 itu kembali dipadati pengunjung. Bukan sekadar berziarah, mereka datang untuk mengenang para korban sekaligus merawat ingatan agar peristiwa serupa tak terulang.

Sejak pukul 06.30, Rabu (30/9), pelajar, pegawai instansi pemerintahan, hingga perwakilan lembaga dan organisasi masyarakat mulai berdatangan ke kawasan monumen. Bendera Merah Putih yang dikibarkan setengah tiang menambah suasana khidmat di lokasi tersebut.

Di balik ramainya kunjungan, Monumen Pancasila Jaya menyimpan kisah tragis tentang gugurnya sekitar 62 Pemuda Ansor asal Muncar dalam peristiwa 18 Oktober 1965. Tragedi yang hingga kini menyisakan dua versi cerita itu menjadi bagian penting dari ingatan sejarah masyarakat Banyuwangi.

Juru Kunci Monumen Pancasila Jaya, Sapingi, 68, mengatakan, kunjungan masyarakat selalu meningkat setiap peringatan 30 September dan 1 Oktober. Mereka datang dari berbagai kalangan untuk mengenang peristiwa sejarah sekaligus memberikan penghormatan kepada para korban.

" Tadi pagi (kemarin), siswa sekolah, siangnya pemerintah desa (Pemdes) Cluring, kemudian sorenya dari ormas keagamaan," ujar Sapingi.

Menurut dia, terdapat dua versi cerita mengenai tragedi yang menewaskan puluhan Pemuda Ansor tersebut. Versi pertama menyebutkan, sekelompok Pemuda Ansor dari Kecamatan Muncar bergerak memperjuangkan Pancasila dan berupaya merebut Desa Karangasem, yang kini menjadi Desa Yosomulyo, Kecamatan Gambiran, dari penguasaan PKI.

Dalam peristiwa itu, sedikitnya 62 Pemuda Ansor disebut gugur akibat kekerasan yang terjadi.

Sementara versi kedua menyebutkan, para Pemuda Ansor Muncar datang ke Desa Karangasem setelah menerima undangan pengajian. Namun, dalam pertemuan tersebut, mereka diduga dijebak melalui makanan yang telah diberi racun oleh anggota Gerwani yang menyamar sebagai anggota Fatayat NU.

"Versi yang kedua, Pemuda Ansor diracun oleh pasukan Gerwani yang menyamar," ungkap Sapingi.

Dari kedua versi tersebut, Sapingi menuturkan, para korban kemudian dibuang ke tiga lubang yang dikenal sebagai Lubang Buaya. Setelah situasi dinilai terkendali, keluarga korban memindahkan jenazah untuk dimakamkan di Kecamatan Muncar.

"Setelah kondisi terkendali, jenazah yang dikubur di tiga Lubang Buaya dipindah," jelasnya.

Monumen Dibangun untuk Merawat Ingatan Sejarah

Monumen Pancasila Jaya, Desa Cluring, Banyuwangi.

Kisah kelam tersebut kemudian diabadikan melalui pembangunan Monumen Pancasila Jaya sekitar 1994. Monumen itu menggambarkan adegan kekerasan dalam tragedi yang menimpa para Pemuda Ansor.

Sebelum dibangun, lokasi tersebut hanya berupa lubang yang tidak terawat dan ditumbuhi rumpun bambu. Seiring waktu, kawasan itu ditata menjadi monumen untuk mengenang para korban sekaligus menjadi pengingat sejarah bagi generasi berikutnya.

Sapingi menyebut, penggambaran tokoh dalam monumen memiliki ciri tersendiri yang dapat dikenali pengunjung.

"Sebelumnya hanya lubang yang tidak terurus dan banyak ditumbuhi bambu. Kalau melihat monumen ini, orang PKI digambarkan yang memakai jam tangan," tuturnya.

Kini, monumen tersebut tidak hanya menjadi tempat mengenang tragedi masa lalu, tetapi juga ruang refleksi bagi masyarakat. Tradisi tabur bunga dan doa bersama yang digelar setiap tahun menjadi bentuk penghormatan terhadap para korban.

Kepala Desa Cluring Sunarto mengatakan, kegiatan tabur bunga di Monumen Pancasila Jaya telah rutin dilaksanakan setiap 30 September. Kegiatan tersebut juga diisi doa bersama untuk mengenang jasa para pahlawan.

"Setiap 30 September dan 1 Oktober di sini (Monumen Pancasila Jaya) selalu ramai pengunjung," terangnya.

Sunarto berharap, tragedi yang pernah terjadi di Desa Cluring dapat menjadi pelajaran berharga bagi generasi sekarang maupun mendatang. Menurut dia, masyarakat perlu menjaga persatuan dan tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang berpotensi memecah belah.

"Semoga generasi selanjutnya tidak mudah terprovokasi dengan diksi-diksi yang tujuannya mengadu domba sehingga tidak ada lagi kejadian serupa," harapnya.

Di tengah kunjungan yang terus berdatangan, Monumen Pancasila Jaya kembali mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu. Ia menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kerukunan, merawat persatuan, dan memastikan tragedi kemanusiaan tidak kembali terulang. (why/sgt)

Editor : Ali Sodiqin
Monumen Pancasila Jaya Tragedi Pemuda Ansor Sejarah Banyuwangi 1965 Monumen Cluring Peristiwa G30S